Ini Kunci Bahagia dalam Berkarir?

2946 itok=NcNtWT0r

Salah satu teman pernah mengungkapkan, meniti karir itu ibarat mendaki gunung. Semakin lama kita mendaki, semakin berat seluruh tantangan yang dihadapi. Kerikil yang menghadang di depan, terasa laksana batu berton-ton. Entah karena letih, entah karena bosan, setelah puluhan bulan berlalu – hal-hal kecil bisa membuat seseorang memutuskan untuk berhenti meniti.

Butuh sedikit upaya agar kita tetap nyaman melanjutkan perjalanan untuk mengais rezeki. Perlu ketetapan hati agar bisa kuat menjalani beban pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. Berdasarkan hasil bincang-bincang dengan beberapa teman, upaya yang harus kita lakukan agar tetap nyaman dalam bekerja terkadang hanya hal-hal sederhana. Seperti apa?

MENGUASAI PEKERJAAN UTAMA

Ini sepertinya menjadi poin yang sangat penting. Bagaimana kita bisa nyaman bila tidak menguasai keterampilan untuk mengerjakan pekerjaan utama? Misalkan kita berkarir sebagai pengajar di bidang Teknik Informatika karena memiliki latar belakang pendidikan di bidang tersebut, namun karena tidak begitu hobi menguprak-nguprak komputer dan meng-update informasi terkini dibidang teknologi informasi, akhirnya kita hanya mengajar berdasarkan ilmu yang kita peroleh semasa kuliah.

Satu atau dua tahun setelah lulus kuliah mungkin tidak begitu masalah, namun setelah lima tahun berlalu, pasti akan menjadi kendala tersendiri. Apalagi teknologi informasi merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat cepat berkembang, bila tidak terus meng-up grade wawasan di bidang tersebut, bukan tidak mungkin ke depannya pertanyaan dari siswa akan menjadi beban karena kita sebagai pengajar tidak tahu jawaban yang tepat.

Saat masih duduk di bangku SMA, dulu ada teman di tempat kursus Bahasa Inggris yang memilih menjadi guru Bahasa Inggris ketimbang menjadi bidan sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ia miliki. Alasannya, meski sudah belajar bertahun-tahun di bidang itu, ia tidak menguasai bagaimana membantu orang melahirkan. Teman kursus saya itu bilang, lebih baik ia simpan ijazahnya dan meniti karir di bidang yang ia kuasai dan minati. Akhirnya ia kursus Bahasa Inggris untuk mendapatkan sertifikat agar bisa mengajar di lembaga yang lebih formal.

Terkadang di perusahaan ada rotasi posisi, atau penambahan tanggung jawab. Saat kita mendapat limpahan pekerjaan yang kurang kita kuasai, akan menjadi momok tersendiri. Tugas yang sebenarnya sepele bagi sebgian orang, akan menjelma menjadi tugas berat saat kita tidak begitu menguasai pekerjaan tersebut.

Agar bisa bertahan, ada baiknya belajar agar kita terampil mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita, atau sekalian saja dari awal memang memilih pekerjaan yang kita kuasai dan minati, sehingga saat pekerjaan menggunung, setidaknya kita tahu bagaimana mengerjakan pekerjaan itu dengan baik sesuai dengan tenggat waktu yang dijadwalkan.

JALIN HUBUNGAN BAIK DENGAN REKAN KERJA

Memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja, terkadang menjadi pertimbangan tersendiri untuk bertahan di sebuah perusahaan. Saat kita tidak nyaman dengan suatu kebijakan, atau malah kewalahan dengan tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat, jalinan pertemanan yang baik dengan rekan kerja akan menjadi pelipur lara tersendiri.

Hubungan yang baik dengan rekan kerja, diakui atau tidak akan membuat pekerjaan lebih ringan. Saat kita memerlukan suatu data mendadak untuk keperluan pekerjaan, rekan kerja pasti dengan senang hati membantu dengan menyediakan data yang kita butuhkan, atau saat kita memerlukan proses super cepat untuk hal-hal tertentu terkait pekerjaan, teman sekerja yang memiliki hubungan baik dengan kita, pasti tidak keberatan untuk memproses lebih cepat.

JANGAN MENUMPUK PEKERJAAN

Ketidakbahagiaan dalam berkarir terkadang muncul saat kita harus menyelesaikan pekerjaan dalam tenggat waktu yang singkat. Padahal tugas tersebut tidak selamanya diberikan secara mendadak. Ada juga yang diberikan atasan jauh-jauh hari, hanya saja terkadang karena melihat deadline yang masih panjang, kita enggan menyelesaikannya lebih cepat. Ujung-ujungnya, saat deadline semakin dekat dan pekerjaan semakin menumpuk, rasa nyaman dalam bekerja tergerus pelan-pelan.

Sebenarnya ini warning juga untuk diri saya sendiri agar mengerjakan pekerjaan secepatnya, jauh sebelum deadline. Selain lebih leluasa saat mengerjakan tugas tersebut, juga untuk mengurangi resiko stress karena diburu-buru untuk selesai. Apalagi bila masih banyak antrian pekerjaan lain yang harus dikerjakan.

PATUHI ATURAN PERUSAHAAN

Setiap pekerja sudah seharusnya mematuhi aturan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Hanya saja terkadang kita suka terpeleset dengan melanggar beberapa hal yang sudah ditetapkan oleh perusahaan, misalkan tidak datang/pulang tepat waktu, melipir sebentar disela jam kerja ke pusat perbelanjaan, atau bolos hanya karena malas atau menghindari tugas.

Sekali dua kali melakukan kenakalan kerja seperti itu mungkin tidak masalah, namun bila terus dilakukan dan menjadi ketagihan, cepat atau lambat pasti akan menimbulkan masalah tersendiri. Apalagi bila kita sudah mulai dikucilkan oleh lingkungan kerja karena danggap tidak perfom dan membebani pekerja lain, pelan-pelan akan berpikir ulang untuk melanjutkan karir di tempat tersebut.

SIAP MENGIKUTI PERUBAHAN

Ritme kerja di sebuah perusahaan terkadang berubah seiring waktu. Entah karena ada pergantian pimpinan, atau karena tuntutan dari stakeholders. Sehingga, ritme kerja tahun sebelumnya, belum tentu sama dengan tahun ini.

Mungkin karena sudah mulai nyaman atau alasan lain, terkadang kita enggan untuk mengubah gaya kerja. Akibatnya, timbul friksi karena kita tidak sejalan dengan ritme kerja yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Ujung-ujungnya, gesekan tersebut tentu akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan. Oleh karena itu, agar tetap nyaman sebaiknya kita siap mengikuti beragam perubahan dari perusahaan.

Sebenarnya mungkin ada banyak tips lain yang bisa disampaikan. Setiap orang pasti punya amunisi tertentu agar tetap nyaman melanjutkan perjalanan panjang di dunia kerja. Mungkin ada teman-teman yang mau menambahkan? (*)

Foto diambil dari Sini:

https://www.trainingjournal.com/articles/feature/tackling-employee-information-overload

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *