Pelajaran dari Sehelai Seragam Sobek

Ilustrasi (Dok Net)

Ilustrasi (Dok Net)

Hari itu saat saya sedang menamani buah hati bermain di playground sekolah, tiba-tiba melintas teman sekolah anak saya yang berbeda kelas. Sama seperti anak-anak yang lain, balita berusia empat tahunan itu sepertinya ingin memanfaatkan beberapa menit waktu usai pulang sekolah untuk bermain.

Entah karena baju anak tersebut yang terlalu mencolok mata, entah saya yang mulai terkena syndrom saya-mengurus-anak-dengan-lebih-baik. Tiba-tiba pikiran picik muncul di benak saya. Aduh siapa sih ibunya, kok seragam anaknya yang kuning terang bisa-bisanya berubah jadi coklat tua karena terpapar warna lain. Tega banget, harusnya kalau mencuci seragam anak itu dipisah. Sambil memandang anak itu, terus saja saya membatin sambil melirik-lirik mencari tahu yang mana satu ibu dari bocah tersebut.

Meski terkadang malas mencuci baju, khusus untuk seragam anak saya memang memperlakukannya dengan sedikit istimewa. Saya selalu memastikan seragam tersebut dicuci dengan mesin cuci yang tingkat putarannya paling halus, terkadang saya malah mencucinya dengan tangan karena takut seragamnya belel.

Dulu ibu saya juga memperlakukan seragam sekolah saya secara khusus. Beliau bilang, kalau baju main rusak atau bladus tidak apa-apa masih bisa beli lagi. Namun bila seragam – yang hanya dapat satu-satunya dari sekolah, kalau bisa dijaga sebaik mungkin. Apalagi bila tidak dijual bebas di tempat lain. Itu makanya, saat melihat ada anak yang seragamnya terpapar noda saya jadi misah-misuh sendiri.

Kekepoan saya sepertinya belum berakhir. Beberapa hari kemudian, saya juga kebetulan menjadi saksi hidup teman sekolah anak saya yang tidak mengenakan seragam sesuai dengan ketentuan sekolah. Hari itu siswa TK sekolah anak saya seharusnya mengenakan pakaian batik, namun si anak malah mengenakan pakaian Melayu.

Saat kejadian tersebut tidak ada yang beromentar – termasuk saya. Anak tersebut masuk kelas seperti biasa disambut sang guru yang memang biasa sudah ada di kelas sebelum jam masuk. Namun meski saya terlihat diam, saya tetap saja membatin, kok bisa ibunya lupa si anak harus pakai baju apa sampai salah seragam seperti itu?

Entah saya yang terlalu ikut campur urusan orang, entah memang terbawa kebiasaan sewaktu kecil dulu. Saat sekolah ibu saya memang selalu memastikan bahwa saya memakai seragam sesuai dengan yang ditentukan. Sekolah itu sangat penting, termasuk seragam sekolah. Itu makanya jangan sampai salah mengenakan seragam.

Sifat saya yang tidak elok tersebut akhirnya mendapat teguran. Beberapa minggu setelah kejadian tersebut, saya mengalami dua hal seperti yang saya ceritakan diatas. Pertama seragam anak saya rusak, kedua anak saya mengenakan seragam untuk hari lain karena seragam yang seharusnya digunakan tidak dapat dikenakan karena koyak cukup besar – tidak hanya dibagian depan namun juga dibagian belakang.

Setiap pagi sebelum anak saya berangkat sekolah, saya biasa menyetrika seragam anak saya dengan hati-hati. Saya selalu memastikan tingkat kepanasan setrika sesuai sehingga tidak merusak baju yang akan digosok. Seperti biasa pagi itu saya menyalakan setrika, kemudian saya menunggu hingga panas setrika tersebut mencapai titik yang saya inginkan.

Nah pada saat menghamparkan seragam anak saya itulah musibah terjadi. Seragam anak saya terkena setrika yang saya simpan diujung alas untuk menyetrika, dan anehnya setrika tersebut seperti sengaja menyambar beberapa bagian dari baju anak saya. Alhasil ada bolongan sebesar dua telapak tangan di baju anak saya.

Saya sempat tidak percaya setrika tersebut bisa langsung panas dan memercikan api membakar seragam anak saya. Bertahun-tahun saya melakukan ritual menyetrika seperti itu, tidak pernah sekalipun mengalami hal seperti itu. Apalagi biasnya sebelum setrika digosokan ke baju, saya biasa menggosok-gosokan setrika tersebut ke alas untuk menyetrika, memastikan bahwa setrika tersebut tidak terlalu panas sehingga tidak merusak baju.

Dengan lelehan rasa bersalah ke anak, dan marah sama diri sendiri karena kurang hati-hati saya sempat menangis sambil mencoba memperbaiki baju tersebut dengan jaitan tangan, walaupun ujung-ujungnya tidak bisa karena bolongnya terlalu besar. Rasa bersalah kian menghujam saat sadar seragam tersebut digunakan dua hari dalam seminggu – Senin dan Rabu. Itu berarti selama dua hari tersebut anak saya terpaksa harus mengenakan baju lain.

Setelah taubat karena sempat menghakimi orangtua lain, saya mencoba mencari akal agar bisa memperbaiki seragam tersebut. Tak henti saya berdoa agar toko kain di Kota Batam ada yang menjual motif kotak seperti baju anak saya. Setelah berkeliling di Pasar Jodoh, beruntung ada satu toko yang menjual motif kotak persis seperti seragam milik anak saya – padahal saya sempat hopeless karena seragam anak saya dijahit di luar kota, jadi bisa menemukan motif yang sama persis kemungkinannya kecil. Akhirnya dengan bantuan tukang jahit, seragam tersebut bisa diperbaiki. Kini seragam anak saya seperti memiliki banyak kantung karena tambalan. Meski demikian, tidak terlihat jejak koyak karena setrikaan.

Kini setelah kejadian tersebut saya sadar, jangan pernah menghakimi orangtua lain apalagi bila tidak merugikan kita sama sekali. Kita tidak pernah tahu latar belakang dari kejadian suatu peristiwa bila tidak mengalaminya sendiri. Orangtua yang seragam anaknya terpapar warna lain – yang saya lihat di playground, bisa jadi juga mungkin sudah berhati-hati mencuci baju anaknya, namun karena satu dan lain hal kejadian yang tidak diinginkan tersebut terjadi juga. Ah, harus banyak-banyak belajar berempati, dan tidak cepat menghakimi orang lain. Salam Bataminenglish! (*)

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *