[Serial Wica 1] Menolong Mama

Dok Femina

Dok Femina

Sebelumnya Aku tidak pernah melihat mama segelisah ini. Biasanya sikap perempuan yang melahirkanku tersebut selalu tampak terkontrol. Saat marah, sedih, ataupun bahagia tidak pernah memperlihatkan emosi yang berlebihan. Namun kali ini beliau sedikit berbeda. Sejak subuh tadi ia tak henti menangis – meski tidak mengeluarkan suara. Aku hanya meihat matanya sedikit sembab dengan buliran air mata yang tak henti mengalir.

“Mama kenapa?” Tanyaku khawatir. Mama hanya menggelang. Tak lama kembali termangu sambil menatap ponsel yang beliau genggam.

“Aku sudah besar kok, Ma, sudah belasan tahun. Kalau ada sesuatu, Mama bisa berbagi cerita dengan aku,” kataku sambil menghampiri mama lebih dekat.

“Nenekmu sakit, barusan Uamu menelepon meminta Mama untuk pulang.”

“Kalau begitu ayok kita pulang jenguk nenek,” kataku antusias.

Namun mama mengelang.

“Lho kenapa? Sejak aku masuk SD aku belum pernah lagi bertemu nenek. Aku juga kangen Nenek, Ma, juga saudara-saudara Mama yang lain.”

Mama masih terdiam sambil memandangi ponsel yang beliau genggam.

“Mama tidak punya uang ya? Mau jual handphone untuk ongkos pulang?” tanyaku saat mama tak henti memandangi alat komunikasi berbentuk kotak tersebut.

“Mama memang sedang tidak punya uang banyak untuk pulang kampung menjenguk nenek, namun Mama tidak berniat menjual handphone. Mama malah sedang menimbang-nimbang untuk mmenfaatkan handphone ini agar bisa pulang menemui nenek,” jawab mama yang membuat aku sediit bingung.

“Mama mau minta saudara Mama transfer uang, atau membelikan tiket lalu menscan dan mengirimkannya lewat email atau inbok facebook?” tebakku.

Mama kembali menggelang. Tak lama ia kembali berkata, “Mama mau ke Bogor menggunakan handphone ini.”

“Hah?! Bagaimana bisa?” Tanyaku kaget. Aku tak membayangkan mama bisa pergi dari Pulau Belakang Padang, Kepri, ke Bogor, Jawa Barat, dengan menaiki ponsel. Selain alat komunikasi tersebut tidak bisa terbang, juga bentuknya tidak besar. Mama memang menggunakan phablet, akan tetapi tetap saja ukurannya hanya enam inchi dan tidak mungkin bisa mengangkut mama yang berbobot hampir 70 kilogram.

“Nanti Mama ceritakan. Tapi nanti kamu mau bantu Mama kan?” tanyanya.

“Tentu saja,” jawabku pasti.

 

***

Dua jam kemudian, saat sebuah acara musik di televisi disiarkan secara langsung dari Cibinong City Mall, mama mengejutkanku. Beliau mengatakan bisa pergi ke tempat manapun yang disiarkan secara langsung melalui layar televisi, ponsel, maupun komputer dan laptop.

“Untuk pergi ke Bogor, Mama bisa berangkat dengan memanfaatkan program televisi ini – sebentar Mama berangkat. Namun nanti pulangnya Mama butuh bantuan kamu karena jarang sekali ada siaran langsung di Batam, apalagi Belakang Padang. Nanti kamu bikin siaran langsung melalui facebook atau instagram ya, Nak, di sekitar rumah. Sebelumnya nanti Mama pasti kabarin kamu, kapan kamu harus buat siaran langsung,” ucap mama panjang lebar.

Aku masih tertegun karena kaget, saat mama kembali berbicara. “Kita harus menyimpan cerita ini sendiri. Ini rahasia kita berdua, jangan sampai siapapun tahu – termasuk Papamu. Oiya, Papa sebanarnya tahu, namun beliau tidak pernah mengizinkan Mama menggunakan alat ini. Sehingga, sebisa mungkin jangan sampai Papa tahu ya, Wi.”

“Terus nanti saat Mama berjam-jam tidak di rumah, aku harus bilang apa ke Papa?” tanyaku menyiratkan setuju untuk bersekongkol.

“Papa ada acara di sekolah hingga sore nanti. Mama janji, sebelum Papa pulang, Mama sudah dirumah.”

Setelah memberi beberapa instruksi, mama kemudian menempelkan sebuah karet berbentuk bulat tersebut ke layar televisi. Karet berwarna keemasan dengan ukuran yang lebih besar dari karet gelang biasa. Setelah menempelkan karet tersebut, mama memasukan sebelah kakinya ke dalam karet yang ia tempelkan diatas layar televisi. Tak sampai berapa menit, mama sudah hilang dari pandangan.

 

***

 

Hampir enam jam mama menghilang, namun belum juga memberi kabar. Aku sudah sangat khawatir dan berniat untuk menelepon atau mengirim SMS menanyakan kabar mama. Beruntung sebelum aku melakukannya, mama sudah menelepon meminta agar aku segera melakukan siaran langsung agar mama bisa segera pulang ke rumah.

Sesuai instruksi mama, aku kemudian mengambil handphone dan melakukan siaran langsung melalaui instagram. Aku mengambil gambar bunga-bunga yang mulai bermekaran di halaman samping rumah. Belum sampai berapa detik melakukan siaran langsung, mama sudah muncul kembali sambil membawa beberapa makanan oleh-oleh dari nenek.

“Gimana, Ma, sukses?” tanyaku tak sabar.

Mama mengangguk. “Mama juga bersyukur karena Nenek ternyata hanya sakit biasa, bukan sakit parah. Beliau hanya kangen sama Mama sehingga meminta mama menjenguk.”

“Syukurlah. Oya, Ma, kapan-kapan aku boleh pinjam alatnya. Ada beberapa tempat yang ingin aku kunjungi,” kataku.

Diluar dugaan, mama menjawab, “Tentu saja, tapi harus digunakan hati-hati dan bertanggung jawab.”

Yeay, aku melonjak bahagia. Sudah terbayang beberapa tempat impian yang sudah aku impikan djelajahi sejak aku masih balita namun belum juga dikunjungi karena terbentur biaya. (*)

 

Disclaimer:

Ini hanya cerita fiksi yang terinspirasi dari banyaknya siaran langsung yang dilakukan melalui media sosial. Bila ada nama tokoh dan kesamaan cerita itu hanya kebetulan belakan. Selain cerita ini, akan ada cerita-cerita lanjutan lain. Ditungga ya. Salam Bataminenglish!

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *