“Berkeliling Indonesia” di Rumah Miniatur Batam

ydxj0006

Usai puas meneliti satu persatu ornamen yang ada di Rumah Gadang, bergegas saya mendekati Tongkonan yang berdiri kukuh dengan atapnya yang khas. Meski berbeda provinsi, saya hanya perlu beberapa menit mengabadikan diri di dua rumah adat tersebut. Hal tersebut dikarenakan saya tidak perlu ke Sumatera Barat untuk berfoto di depan Rumah Gadang, atau jauh-jauh datang ke Toraja untuk memotret Tongkonan. Saya hanya perlu datang ke Rumah Miniatur yang terletak di Golden City, Bengkong Batam – yang waktu tempuhnya hanya sekitar 10-15 menit dari rumah.

ydxj0215

Selain rumah adat dari dua provinsi tersebut, ada 32 rumah adat dari provinsi lain – termasuk Ebe’ai, rumah adat khas Papua yang dibangun khusus bagi para wanita suku tersebut. Rumah adat itu berbentuk seperti igloo – rumah khas Suku Eskimo, sama-sama tidak memiliki jendela dan hanya dilengkapi satu pintu depan. Bedanya Ebe’ai terbuat dari kayu yang beratap jerami.

rumah-miniatur-3

Sekedar informasi, ada dua rumah asli Papua, pertama Ebe’ai dan kedua Honai. Honai bentuknya sedikit lebih besar dan dibangun untuk ditempati oleh pria dewasa Papua. Honai memiliki ukuran lebih besar karena tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, namun juga dijadikan sebagai sekolah pertama bagi anak-anak Papua.

ydxj0211

Pada bangunan tersebut, anak laki-laki Papua diajarkan cara bertahan hidup di alam liar dan bertanggung jawab pada kelompok mereka. Sementara, anak perempuan diajarkan bagaimana cara mengurus rumah tangga. Untuk rumah asli Papua yang dibangun di Rumah Miniatur tidak disebutkan itu Honai atau Ebe’ai, namun bila melihat bangunannya lebih mirip dengan Ebe’ai.

ydxj0212

Meski bangunannya hanya replika, namun rumah adat di Rumah Miniatur terlihat begitu mirip dengan aslinya. Sehingga, bila belum memiliki dana melihat rumah adat seluruh Indonesia secara langsung, untuk sementara bisa melihat rumah adat di seluruh provinsi tersebut melalui Rumah Miniatur.

ydxj0202

Apalagi pihak pengelola tidak menetapkan harga tiket masuk untuk menikmati tempat rekreasi yang menarik dan edukatif itu. Pihak pengelola hanya menempatkan satu kotak kaca lumayan besar untuk diisi uang tunai secara sukarela oleh pengunjung. Kotak itu hanya diletakan begitu saja di salah satu sudut pintu masuk – tanpa ada penjaga sama sekali.

Alhasil, setiap kali anak saya merengek minta piknik sementara uang di dompet sedang menipis, saya biasanya mengajak anak berjalan-jalan ke Rumah Miniatur tersebut. Apalagi di dekat Rumah Miniatur tersebut juga disediakan playground dengan tiket masuk yang sangat terjangkau – hanya Rp10.000/anak dengan waktu main sepuasnya.

toraja

 

Biasanya usai berkeliling di Rumah Minatur dan puas bermain di playground, saya mengajak anak bermain pasir di pantai yang letaknya tak jauh dari Rumah Miniatur tersebut. Jangan khawatir, masuk ke pantai tersebut gratis. Kita bisa berenang sepuasnya tanpa perlu membayar uang sepeserpun.

Puas bermain air, kita bisa menikmati makanan ringan di pusat jajanan yang tak jauh dari pantai. Jangan khawatir, meski tergolong tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara, jajanan di tempat tersebut sangat terjangkau. Harganya bekisar Rp2.000 hingga Rp15.000.

 

oleh-oleh

Sementara bagi pengunjung luar kota yang ingin membeli buah tangan untuk keluarga atau kerabat, dapat membeli batik atau pernak-pernik unik dan menarik di pusat oleh-oleh yang diisi oleh pelaku usaha Kota Batam. Jadi siap menghabiskan waktu untuk weekend ini di Rumah Miniatur? Yuuk. Salam Bataminenglish! (*)

 

 

 

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *