Listrik, Mengubah Pulau Tak Berpenghuni Menjadi Kota Industri

Pelabuhan Ferry Internasional Batamcentre, Batam.

Pelabuhan Ferry Internasional Batamcentre, Batam.

Pada era digital seperti saat ini, energi listrik ibarat darah dalam tubuh mahluk hidup. Tanpa darah, organ tubuh manusia tidak akan dapat berfungsi dengan sempurna. Begitupula dengan listrik. Tanpa energi listrik, beragam manfaat teknologi yang sudah tercipta tidak akan maksimal terasa.

 

Listrik merupakan penopang kehidupan. Energi listrik tak semata diperlukan untuk penerangan atau sekadar mengefisienkan kegiatan domestik rumah tangga. Peran listrik lebih besar dari itu. Energi listrik bermanfaat untuk menggerakan roda ekonomi.

 

Ketersediaan energi listrik yang memadai, berkesinambungan dan ekonomis dapat memacu kemajuan suatu wilayah.

 

Itu makanya banyak kepala daerah yang melakukan berbagai upaya agar pasokan listrik di wilayahnya cukup. Beberapa tahun kebelakang bahkan tidak sedikit calon kepala daerah di Indonesia yang menjadikan listrik sebagai daya tarik utama saat kampanye. Saat itu banyak calon kepala daerah yang menjanjikan pasokan listrik yang cukup bila ia terpilih sebagai bupati/walikota/gubernur terutama di wilayah-wilayah yang pasokan listriknya masih minim.

 

Meski bukan kebutuhan primer manusia untuk bertahan hidup, peran listrik sangat besar. Listrik bahkan mampu mengubah peradaban. Energi yang dikembangkan oleh beberapa ilmuwan tersebut dapat mentransformasi wilayah tertinggal menjadi daerah maju yang diperhitungkan salah satu contohnya adalah Batam.
Listrik Mantap, Ekonomi Melesat
Sebelum mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, Batam didominasi lahan kosong tak berpenghuni. Perlahan pemerintah pusat melalui Pertamina, kemudian dilanjutkan oleh Otorita Batam (BP Batam) membangun beragam infrastruktur di Pulau Batam, salah satunya adalah infrastruktur listrik.

 

Hingga pertengahan 1970-an, energi listrik di Batam masih sangat terbatas. Saat itu, listrik yang hanya berkapasitas 4.000 kVa dialirkan untuk fasilitas milik Otorita Batam. Masyarakat umum terpaksa menggunakan minyak atau diesel pribadi untuk penerangan di malam hari (Sumber: Buku Mengungkap Fakta Pembangunan Batam). Waktu itu jangankan investor, masyarakat biasa dari lain pulau saja masih banyak yang enggan untuk menetap di Batam.

 

Meski tidak mudah, secara betahap Otorita Batam terus menambah pasokan listrik. Perpanjangan tangan pemerintah pusat tersebut sadar listrik merupakan hal paling krusial untuk suatu kawasan industri. Bila pasokan listrik tidak memadai, fasilitas sebaik apapun yang sudah disiapkan pemerintah tidak akan mampu menarik minat investor.

 

Bila diibaratkan dengan masakan, listrik seperti garam. Sehebat apapun kawasan industri, tidak akan berjalan baik bila tidak tersedia sumber energi yang cukup untuk menjalankan kegiatan industri.

 

Saat listrik tidak dapat diandalkan, para investor satu persatu akan hengkang mencari kawasan industri yang memiliki energi listrik mumpuni.

 

Seperti yang kita tahu, industri tak bisa dipisahkan dari listrik. Beragam perusahaan yang tersebar di 22 kawasan industri Kota Batam membutuhkan listrik untuk operasional. Perusahaan tersebut membutuhkan energi listrik untuk memproduksi ponsel pintar, membuat alat bantu dengar, hingga membuat suku cadang alat elektronik.

 

Apalagi perusahaan yang tersebar di Kota Batam tidak hanya memperoduksi produk untuk kebutuhan lokal dan nasional, namun sudah merambah ke tingkat internasional atau dengan kata lain, perusahaan tersebut juga memproduksi produk untuk komoditi ekspor. Sehingga, tidak sedikit perusahaan yang beroperasi 24 jam dengan menggunakan sistem shift.

 

Alhasil, bila pasokan listrik kurang dan perusahaan terpaksa harus mengakomodir secara mandiri dengan menggunakan generator, pasti akan banyak perusahaan yang keberatan terutama untuk masalah finansial.

 

Sudah menjadi rahasia umum, listrik yang dipasok PLN lebih ekonomis dibanding harus membeli solar yang menjadi bahan bakar utama genset.

 

Selain untuk operasional, listrik di Batam juga sangat diperlukan untuk penunjuang transportasi. Seperti yang kita tahu, Batam dikelilingi laut. Agar Batam terhubung dengan kota lain, diperlukan transportasi udara dan laut.

 

Transportasi tersebut juga tidak terlepas dari listrik. Apa jadinya fasilitas bandar udara yang tidak menggunakan listrik, atau pelabuhan laut yang dilakukan secara manual. Jadwal keberangkatan dan kedatangan pasti akan kacau.

 

Oleh karena itu, saat kawasan industri di Batam semakin menggeliat dan Otorita Batam merasa tidak sanggup mengelola listrik sendiri, pengelolaan kelistrikan akhirnya diserahkan ke PT PLN (Persero) Wilayah Khusus Batam. Penyerahan pengelolaan tersebut bertujuan agar pelayanan kelistrikan dapat lebih handal dan fokus.

 

Keputusan Otorita Batam sangat tepat. Pengelolaan listrik di Kota Batam semakin baik. Cadangan listrik juga semakin bertambah. Bila saat diserahkan Otorita Batam pasokan listrik baru 45,5 MW, setelah lebih dari dua dasawarsa menyerahkan pengelolaan listrik kepada bright PLN Batam, pasokan listrik berlipat menjadi 373 MW.

 

Kini listrik yang dikelola bright PLN Batam tak hanya menerangi Pulau Batam, namun sudah merambah ke hinterland, mulai dari Pulau Rempang, Galang, hingga Belakang Padang. Bahkan sejak satu tahun terakhir, sebagian listrik yang dikelola oleh bright PLN Batam sudah dialirkan ke Pulau Bintan.

 

Tak heran setelah listrik semakin memasyarakat, kemudian ditunjang dengan fasilitas lain yang semakin mendukung, Batam terus tumbuh menjadi kota tujuan investasi dan urbanisasi. Meski sedikit melambat, laju pertumbuhan ekonomi Batam pada 2015 masih cukup tinggi, yakni sekitar 6,02 persen. Tetap jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih diangka 4,8 persen (Tempo)

 

Bersama Menjaga Listrik Batam Tetap Handal

 

Bila dibandingkan dengan wilayah pesisir lain di Indonesia, Batam sangat beruntung. Walaupun berlokasi di ujung terluar Indonesia, wilayah yang berbatasan langsung dengan Singapura ini selalu memiliki pasokan listrik yang cukup. Sehingga, aktivitas domestik maupun industri tidak pernah terganggu.

 

bright PLN Batam memang selalu berupaya agar listrik tetap handal. Salah satu upaya yang dilakukan oleh anak perusahaan PT PLN (Persero) tersebut adalah memastikan harga jual listrik per kWh kepada pelanggan tetap ekonomis.

 

Itu makanya beberapa bulan terakhir, sempat ramai berita mengenai keinginan bright PLN Batam untuk menyesuaikan tarif khususnya tarif rumah tangga.
Hal tersebut dikarenakan tarif listrik untuk golongan rumah tangga di Kota Batam dinilai terlalu rendah, yakni Rp900 per kWh. Padahal Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk rumah tangga sudah mencapai Rp1.300 per kWh.

 

Terlalu rendahnya tarif listrik rumah tangga tersebut dinilai PLN Batam berpengaruh terhadap operasional. Terlebih, pelanggan rumah tangga bright PLN Batam tidak sedikit.

 

Persentase pelanggan rumah tangga di Kota Batam mencapai 29 persen dari total keseluruhan pelanggan PLN Batam. Sementara pengguna listrik untuk Industri hanya 23 persen dan Bisnis 32 persen.

 

Itu makanya bright PLN Batam sempat mengklaim tarif rumah tangga tangga yang terlalu rendah menyebabkan keuangan PLN Batam defisit.

 

Sebagai perusahaan yang tidak disubsidi, sebenarnya wajar bila PLN Batam harus mengupayakan agar perusahaan yang mereka nahkodai tetap untung atau setidaknya tidak merugi. PLN Batam harus mandiri dari segi finansial.

 

Bila tarif listrik harus disesuaikan untuk menjaga kehandalan suplai listrik ke depan, mungkin tidak ada salahnya dilakukan. Selama penyesuaian tarip tersebut wajar dan terukur.

 

Toh, bila nanti pendapatan bright PLN Batam tidak menutupi biaya pengeluaran, siapa yang paling dirugikan? Tentu saja masyarakat Kota Batam. Bila bright PLN Batam terus merugi pasti akan ada pemadaman listrik bergilir.

 

Hal tersebut dikarenakan PLN Batam harus menghemat belanja batu bara dan gas. Padahal Batam merupakan kota industri yang sangat bergantung pada pasokan energi listrik agar proses industri dapat terus berjalan.

 

Bila listrik tidak dapat diandalkan, bagaimana menjaga investor agar tetap betah berinvestasi di Batam? Bila listrik terganggu, bagaimana dengan nasib masyarakat Kota Batam? Padahal listrik merupakan salah satu kebutuhan utama.

 

Apalagi Batam merupakan kota kepualauan yang jaraknya cukup jauh dari kota lain. Masa mau mengisi baterai telepon selular saja harus menyebrang dulu ke Singapura.

 

Agar tarif listrik tidak terus bergerak naik, mungkin sudah saatnya masyarakat Kota Batam lebih bijak lagi menggunakan energi listrik. Selain itu, ada baiknya bright PLN Batam juga terus berinovasi melakukan efisiensi.

 

Sehingga, pasokan listrik tetap terjaga tanpa menyebabkan tarif listrik terus merangkak naik. Bila tidak sekarang, kapan lagi? Yuk, bersama-sama menjaga kehandalan listrik di Kota Batam. Salam Bataminenglish! (*)

Ps. Tulisan ini dibuat untuk Lomba Hari Listrik Nasional 2016 yang diadakan bight PLN Batam. Alhamdulillah meraih juara II.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *