Menulis Itu Ibarat Memasak. Setuju?

Ilustrasi. Dok: 123rf.com

Ilustrasi. Dok: 123rf.com

Bagi sebagian orang, mungkin sedikit berlebihan membandingkan menulis dengan memasak. Namun bagi saya pribadi ada banyak persamaan antara menulis dengan memasak. Ini beberapa alasan yang membuat saya menarik kesimpulan bahwa menulis dan memasak itu hampir sama. Yuk, disimak.

Sama-sama Mengolah

Persamaan utama dari menulis dan memasak adalah mengolah, namun bila yang satu mengolah kata, yang satunya lagi mengolah makanan. Bila menulis dituntut untuk menyajikan kalimat-kalimat yang enak dibaca, memasak dituntut untuk menghidangkan penganan yang nikmat untuk dikonsumsi.

Harus Menggunakan Bahan Segar

Menulis maupun memasak disarankan untuk menggunakan bahan-bahan segar agar hasil olahannya lebih lezat. Tak terbayang kan mencicipi sup yang dagingnya sudah diolah menjadi semur sebelumnya. Rasanya pasti kurang endess – ada rasa-rasa manis yang berasal dari kecap. Padahal rasa sup kan seharusnya asin, gurih, segar. Begitupula dengan tulisan. Saat kita copy-paste tulisan orang lain yang sudah berbentuk artikel, pasti hasil tulisan tersebut tidak “selezat” bila kita menulis sendiri dari awal. Tulisan kita pasti terpapar gaya tulisan orang tersebut.

Mencontek ide tema/topik yang akan ditulis sebenarnya sah-sah saja – sama seperti kita pernah mencontek resep masakan orang lain. Akan tetapi harus ada sesuatu hal baru yang ditawarkan, entah itu dalam cara penyajian, entah dari sisi content. Apalagi setiap orang pasti pernah mengalami hal yang sama, namun dengan rincian kejadian yang berbeda. Artikel penulis lain sebaiknya hanya dijadikan referensi, bukan dijiplak untuk diklaim sebagai tulisan kita.

Masakan jenis baru yang lezat, pasti akan lebih disukai dibanding masakan yang sudah banyak ditawarkan oleh orang lain. Begitu juga dengan tulisan, tulisan baru yang enak dibaca pasti akan lebih disukai dibandingkan dengan tulisan seragam yang sudah ditawarkan beragam website dan blog.

Semakin Cepat Dibuat Semakin Baik

Rasa olahan kacang panjang yang baru dipetik, pasti akan berbeda dengan rasa olahan kacang panjang yang sudah disimpan selama beberapa hari. Rasa manis-segar dari kacang tersebut akan berkurang. Begitu juga dengan menulis. Membuat tulisan yang bahan-bahannya diendapkan selama beberapa waktu pasti hasilnya kurang “menggigit” – kecuali novel/cerpen/fiksi/drama, karena tulisan fiksi umumnya justru memerlukan waktu untuk diendapkan sesaat agar bisa direvisi secara optimal oleh si penulis. Apalagi bila jenisnya adalah reportase suatu peristiwa atau tulisan mengenai suatu acara yang sudah berlangsung. Sebaiknya bila bahan-bahan yang akan ditulis sudah terkumpul semua, segerakan untuk ditulis sebagai artikel.

Bahan Semakin Lengkap, Rasa Semakin Lezat

Untuk mendapatkan hasil yang baik, saat akan menulis maupun memasak kita harus mendapatkan bahan-bahan yang lengkap. Sejago apapun si koki, bila tidak ada garam saat akan memasak, tetap saja masakannya akan terasa tidak enak. Begitu pula dengan penulis, bila tidak ada informasi utama yang akan disajikan, sejago apapaun ia menulis tidak akan mampu membuat karya yang baik. Oleh karena itu, sebelum memulai menulis ayo cari bahan sebanyak-banyaknya sebagai referensi. Semakin lengkap bahan tulisan, karya yang dihasilkan akan semakin baik.

Bahan Sama, Hasil Berbeda

Sama seperti memasak, meski bahan dan alat memasak yang digunakan sama, hasil olahan setiap koki pasti berbeda. Begitu pula dengan tulisan. Meski mendapat informasi dari nara sumber yang sama, hasil tulisan dari setiap penulis pasti berbeda. Baik dari sudut pandang maupun gaya tulisan yang ditampilkan.

Harus Terus Belajar

Persamaan lain antara menulis dan memasak adalah harus terus belajar sepanjang waktu. Hal tersebut dikarenakan selalu ada hal baru dalam dunia menulis maupun memasak. Bila kita tidak mau belajar karena sudah merasa ahli dalam bidang tersebut, siap-siap kita jauh tertinggal.

Salah satu hal baru yang harus kita ikuti dalam dunia tulis menulis adalah diksi. Setiap waktu selalu ada kosa kata baru. Baik kosa kata yang memang diciptakan baru untuk menggambarkan sesuatu, maupun kosa kata baru hasil terjemahan dari bahasa asing lain – misalkan upload menjadi unggah, download menjadi unduh, atau bullying menjadi perundungan.

Ah, sebenarnya tidak hanya dalam hal menulis dan memasak kita harus terus belajar, dalam hal lain juga. Setuju? Salam Bataminenglish! (*)

 

 

Share This:

10 thoughts on “Menulis Itu Ibarat Memasak. Setuju?

  1. Setuju bangeeeet. Menulis itu hampir sama dengan memasak, dalam menulis kita dituntut mengolah kata, dalam memasak kita dituntut megolah bahan supaya rasa makanannya enak ^-^.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *