Batam dan Ketahanan Air Bersih

Dam Duriangkang diambil dari udara, Minggu (1 Maret 2015). Dam yang selesai dibangun pada tahun 2000 ini memiliki kapasitas penyimpanan air sebanyak 13.147.000 meter perkubik. | Dokumentasi ATB

Waduk Duriangkang diambil dari udara, Minggu (1 Maret 2015). Waduk yang selesai dibangun pada tahun 2000 ini memiliki kapasitas penyimpanan air sebanyak 13.147.000 m3. | Dokumentasi ATB

Batam sedikit berbeda dengan kota lain di Indonesia. Kota tersebut tidak memiliki sumber mata air alami yang melimpah. Batam tidak memiliki sungai maupun gunung. Air yang digunakan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari adalah air hujan yang sudah diolah oleh perusahaan air minum swasta yang mendapat konsesi dari pemerintah.

Meski tidak dianugrahi sumber mata air alami yang mumpuni, Batam cukup beruntung. Sejak 1970-an, pemerintah pusat melalui Otorita Batam (BP Batam) membangun infrastruktur untuk menyokong kebutuhan air bersih. Salah satunya adalah membangun waduk untuk menampung air baku yang berasal dari air hujan.

Ada tujuh waduk yang dibangun Otorita Batam (BP Batam), yakni Waduk Sei Harapan, Baloi, Nongsa, Sei Ladi, Mukakuning, Duriangkang, dan Tembesi. Namun saat ini hanya lima yang digunakan karena Waduk Baloi sudah sangat tercemar limbah rumah tangga. Sementara Waduk Tembesi masih dalam proses desalinasi alami.

Selain difasilitasi infrastruktur yang cukup baik, Batam juga beruntung dianugrahi curah hujan yang lumayan tinggi. Saat normal, curah hujan rata-rata tahunan Kota Batam mencapai 2.000 hingga 3.000 mm. Umumnya hujan juga berlangsung sepanjang waktu karena Batam tidak mengenal musim hujan ataupun kemarau.

Dam Duriangkang saat El Nino akhir 2015 lalu. | Dokumentasi ATB

Waduk Duriangkang saat El Nino akhir 2015 lalu. | Dokumentasi ATB

Cuaca dan Pertumbuhan Penduduk Menjadi Kendala

Secara matematis, lima waduk yang berkapasitas 3.820 liter/detik cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih saat ini. Namun air baku yang hanya mengandalkan air hujan, merupakan masalah tersendiri. Saat hujan berhenti turun, pasokan air kepada masyarakat terkadang ikut terhenti.

Hal tersebut seperti yang pernah terjadi pada 2015 lalu saat El Nino melanda. Curah hujan yang berkurang secara drastis selama berbulan-bulan membuat air di lima waduk menyusut tajam dan mengganggu suplai air kepada masyarakat. Apalagi saat itu hujan lebih sering turun diluar wilayah waduk-waduk yang membentang.

Hujan di Batam memang cukup unik. Saya sempat gelang-gelang kepala saat menyaksikan hujan yang turun  secara parsial. Bayangkan saja, hujan turun dengan deras di lajur jalan yang satu, sementara di lajur sebelahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter, tidak hujan sama sekali.

Waduk Baloi yang tidak lagi digunakan karena sudah tercemar limbah rumah tangga dan ditumbuhi eceng gondok. | Dokumentasi ATB

Waduk Baloi yang tidak lagi digunakan karena sudah tercemar limbah rumah tangga dan ditumbuhi eceng gondok. | Dokumentasi ATB

Alhasil saat El Nino melanda pada 2015 lalu, PT Adhya Tirta Batam (ATB) selaku pengelola air bersih di Batam terpaksa melakukan penggiliran suplai air kepada sebagian pelanggan. Saat itu selama tiga bulan, dua hari dalam seminggu, aliran air kepada masyarakat dihentikan. Tujuannya agar air baku yang ada di waduk cukup hingga musim kemarau berlalu.

Saat penggiliran suplai air diberlakukan, bukan tidak ada gejolak. Beberapa masyarakat ada yang tidak terima dengan kebijakan tersebut. Namun seiring waktu –demi menyelamatkan Batam dari krisis air yang berkepanjangan, program penggiliran air tersebut dapat berjalan sesuai harapan.

Selain curah hujan yang tidak merata, laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi juga menjadi masalah tersendiri karena semakin banyak penduduk, air bersih yang dibutuhkan akan semakin berlipat. Apalagi laju pertumbuhan penduduk Kota Batam mencapai 8,1 persen/tahun –jauh lebih tinggi dari laju pertumbuhan nasional. Sementara lahan untuk membuat waduk semakin terbatas.

Waduk Nongsa. | Dokumentasi ATB

Waduk Nongsa. | Dokumentasi ATB

Tampung Air Hujan dari Rumah Penduduk

Perlu upaya ekstra dari semua pihak agar air bersih di Batam selalu cukup –tidak hanya untuk saat ini, namun untuk tahun-tahun kedepan. Jangan sampai Batam hanya tinggal nama karena tidak tersedia air bersih yang memadai untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat.

Untuk menghindarkan Batam dari krisis air akibat hujan yang tidak turun di daerah sekitar waduk, pemerintah sebaiknya membangun jaringan pipa yang menghubungkan rumah maupun gedung dengan waduk terdekat. Sehingga, air hujan akan lebih banyak mengalir ke waduk. Apalagi saat ini waduk-waduk di Batam tidak terisi air baku secara maksimal – terutama waduk estuari terbesar Duriangkang.

Suasana Kota Batam. | Dokumentasi Pribadi

Suasana Kota Batam. | Dokumentasi Pribadi

Hal tersebut seperti yang sudah dilakukan warga Pulau Belakangpadang, Batam. Mereka memodifikasi atap rumah sehingga air hujan dapat langsung mengalir ke tempat penampungan air. Itu dilakukan karena air bersih di Belakangpadang sangat terbatas dan pengelolaannya terpisah dari pulau utama.

Pembangunan jaringan pipa air hujan memang tidak akan sesederhana instalasi yang dibangun warga Belakangpadang.  Selain itu, pasti membutuhkan biaya yang lumayan besar. Namun saya yakin semua akan lebih ringan bila ditanggung bersama antara pemerintah dan swasta. Apalagi Batam merupakan kota industri yang menaungi banyak perusahaan. Biaya pembangunan jaringan tersebut dapat digandeng-rentang melalui dana CSR berbagai perusahaan.

Selain itu, ATB juga rutin melakukan program tanggung jawab sosial. Kedepan, mungkin ada baiknya dana CSR yang digelontorkan perusahaan tersebut digunakan untuk lebih membantu mendukung ketahanan air bersih di Batam bertahan lebih lama, dibanding membuat turnamen futsal atau lomba cerdas cermat.

Sementara, untuk mengatasi kebutuhan air bersih yang semakin meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk, sebaiknya masyarakat membantu pemerintah dengan lebih bijak lagi menggunakan air bersih. Sebab, sebanyak apapun waduk yang dibangun nantinya, bila masyarakat tidak menghargai air bersih, tidak akan pernah cukup. Yuk, mulai sekarang lebih hemat lagi menggunakan air. Salam Indonesiana! (*)

Tulisan ini dikutsertakan dalam lomba #InfrastrukturKitaSemua

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *