Ini Solusi Menekan Penggunaan BBM Berlebih?

Dokumentasi rappler.com

Dokumentasi rappler.com

Pemanfaatan Bahan Bakar Minyak (BBM) selalu mengalami peningkatan konsumsi. Kebutuhan BBM di Indonesia meningkat sekitar delapan persen per tahun. Berdasarkan data yang dirilis National Geographic Indonesia, pada tahun 2010 konsumsi BBM di Indonesia mencapai 38,2 juta kilo liter. Jumlah tersebut naik drastis menjadi 46,4 juta kilo liter pada tahun 2013. Sementara jumlah konsumsi BBM pada tahun 2014 lebih banyak lagi.

Berdasarkan data yang dirilis Metrotvnews.com, saat ini kebutuhan BBM di Indonesia mencapai 1,4 juta barel/hari. Bila dikonversikan kedalam liter, itu berarti Indonesia membutuhkan sekitar 222.600.000 liter BBM/hari (1 barel setara dengan 159 liter). Itu juga berarti setahun Indonesia membutuhkan BBM sekitar 80.136 .000.000 liter. Atau setara dengan 80,136 juta kilo liter.

Ironisnya, dengan jumlah kebutuhan BBM yang terus meningkat, produksi BBM di Indonesia justru terus menurun. Pria Indirasarjana melalui buku 2020 Indonesia dalam Bencana Krisis Minyak Nasional meneyebutkan bahwa saat ini produksi minyak Indonesia tidak lebih dari 900 ribu barel/hari. Padahal pada tahun 1977, lifting minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel/hari dengan penggunaan sekitar 285 ribu barel/hari atau hanya sekitar 25 persen dari produksi.

Untuk memenuhi kebutuhan nasional, pemerintah terpaksa mengimpor BBM. Yup, sejak tahun 2004 produksi minyak mentah dalam negeri memang tidak mencukupi kebutuhan. Alhasil negeri yang sempat menjadi penghasil minyak tersebut terpaksa menjadi importir minyak mentah. (BPPT-Outlook Energi Indonesia 2014).

Pada 2014, Indonesia mengimpor 350 ribu barel per hari. Bila konsumsi BBM Indonesia terus meningkat tanpa melakukan tindakan apapun, impor BBM Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan dapat mencapai 2,2 juta barel/hari – dan mungkin Indonesia akan menjadi negara pengimpor BBM terbesar di dunia.

Padahal impor BBM selalu menggunakan US Dollar sebagai alat tukar. Seperti yang kita tahu, mata uang tersebut cenderung naik. Bila hal tersebut terjadi, ada berapa Rupiah yang harus dikorbankan pemerintah hanya untuk memenuhi kebutuhan BBM? Apalagi bila pemerintah terus mensubsidi kebutuhan BBM di Indonesia.

Padahal dana subsidi tersebut dapat dialihkan untuk keperluan lain yang lebih penting. Uang subsidi tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan fasilitas pendidikan, atau membantu masyarakat yang lebih membutuhkan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Saat ini pemerintah memang sudah memberikan fasilitas wajib belajar 12 tahun bagi setiap warga negara dengan memberikan biaya pendidikan gratis – khususnya bagi siswa yang bersekolah di sekolah negeri.

Hanya saja meski sudah ada embel-embel gratis, sebenarnya masih ada beberapa biaya lain yang diperlukan oleh siswa, seperti seragam sekolah dan biaya pendukung lain. Bagi yang mampu mungkin tidak terlalu masalah, namun bagi yang tidak mampu – hal tersebut terkadang masih memberatkan.

Mungkin ada beberapa yang berpendapat agar Indonesia segera meningkatkan jumlah produksi minyak nasional. Apalagi Indonesia dianugrahi wilayah yang cukup luas dengan kontur mendukung untuk eksplorasi minyak bumi. Namun mungkin sebagian dari kita lupa bahwa eksplorasi minyak membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Pemerintah (dan investor yang digandeng) harus melakukan survey untuk menentukan lokasi endapan minyak yang patut diambil. Setelah itu membuat infrastruktur dan menyediakan alat berat. Belum lagi mereka harus mengurus beragam administrasi – termasuk pembebasan lahan – yang terkadang prosesnya berbelit-belit (dan mahal!).

Masa eksplorasi tersebut memerlukan waktu yang cukup panjang, sekitar lima hingga 10 tahun. Pada masa tersebut investor harus rela mengucurkan dana. Setelah ladang minyak tersebut menghasilkan, akan ada pembagian hasil antara pemerintah dengan investor. Hanya saja, bila ternyata setelah di eksplorasi tidak terdapat kandungan minyak seperti yang diharapkan, investor harus rela “gigit jari”. Investasi untuk menyedot minyak bumi memang tidak bisa dilakukan coba-coba. Semua harus dipikirkan dengan matang dan tepat – termasuk dari segi biaya.Apalagi eksplorasi minyak bumi sangat membutuhkan teknologi yang mumpuni.

Proses menghasilkan BBM tidak semudah membuat tapai. Investor tinggal mencari ladang untuk ditanami singkong, setelah itu dipanen, kemudian diolah dengan menggunakan ragi, dan dijual. Ada banyak tahapan rumit yang harus dilalui hingga akhirnya dapat menghasilkan minyak yang bisa dinikmati.

BERAGAM JENIS BBM

Jenis energi yang paling dominan digunakan di Indonesia adalah BBM. Lalu apa saja yang termasuk BBM? Berdasarkan Buku BPPT-Outlook Energi Indonesia 2014, bahan bakar minyak itu tidak hanya bensin, namun juga avtur yang umumnya digunakan untuk bahan bakar pesawat, avgas, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, hingga minyak bakar.

Bahan bakar tersebut merupakan olahan dari minyak bumi (petroleum). Minyak bumi sendiri merupakan cairan kental berwarna coklat gelap atau kehijauan yang memiliki sifat mudah terbakar karena memiliki campuran dari berbagai hidrokarbon.

Minyak bumi umumnya berada tiga hingga empat kilometer dibawah permukaan laut dan diperoleh dengan cara membuat sumur bor. Minyak mentah yang sudah disedot tersebut ditampung dalam kapal tanker, setelah itu dialirkan ke stasiun tanki atau kilang minyak untuk diolah.

Berdasarkan data yang dirilis Republika Online, sumber minyak bumi pertama ditemukan oleh A.G.Zeijkler seorang warga negara Belanda pada tahun 1883 di Telaga Tiga dan Telaga Said, Sumatera Utara. Penemuan tersebut menjadi tonggak berdirinya perusahaan minyak Shell – yang juga milik Belanda.

Indonesia setidaknya memiliki empat daerah yang memiliki sumber minyak bumi terbesar. Penghasil minyak terbesar adalah Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Daerah ini dapat menghasilkan 365.827 barel/hari, dengan rincian 359.777 barel minyak mentah dan 6.050 barel kondesat. Selain Natuna, ada Irian Jaya Barat yang mampu menghasilkan minyak 14.811barel/hari, dengan rincian 8.243 barel minyak mentah dan 6.568 barel kondesat.

Rimau, Lematang, Pendopo Raja, Ogam Komering yang keempatnya berada di Provinsi Sumatera Selatan juga menghasilkan minyak yang cukup banyak. Keempat lokasi tersebut mampu menghasilkan minyak mentah sebesar 30.718 barel/hari, dan menghasilkan kondesat 10.339 barel/hari.

Pulau Jawa juga menghasilkan minyak tidak kalah banyak. Kangean, Tuban, Cepu, Brantas, Madura Barat, Gresik, Bawean – yang semuanya berada di wilayah Provinsi Jawa Timur mampu menghasilkan 52.290 barel minyak mentah per hari dan menghasilkan kondesat sebanyak 326 barel/hari.

HEMAT BBM

Masa eksplorasi minyak yang membutuhkan waktu lama dan biaya mahal, mau tidak mau memaksa masyarakat untuk lebih bijak menggunakan BBM. Selain untuk menghemat pengeluaran pemerintah (karena beberapa jenis BBM masih disubsidi), juga untuk menjaga cadangan minyak dunia. Tidak mau kan bila nanti punya kendaran berderet, namun tidak dapat dijalankan karena tidak ada BBM yang dapat dibeli?

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghemat BBM. Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah melakukan beragam kebijakan untuk menghemat penggunaan BBM. Salah satunya adalah kebijakan untuk mengkonversi minyak tanah dengan gas. Kebijakan tersebut diambil pada masa Pemerintahan Presiden SBY.

Meski kebijakan tersebut awalnya mendapatkan tantangan dan tentangan dari sebagian pihak, akhirnya berhasil dijalankan. Kini hampir semua sektor rumah tangga yang dulunya menggunakan minyak tanah untuk keperluan memasak sudah beralih ke gas seperti yang diharapkan pemerintah.

Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan untuk mengkonversi BBM dengan BBG (bahan bakar gas) untuk sektor transportasi. Untuk mendukung konversi tersebut, pemerintah membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) – salah satunya SPBG di daerah Mampang, DKI Jakarta. Kendaraan milik pemerintah beberapa sudah menggunakan BBG sebagai bahan bakar, meski jumlahnya masih terbatas karena terkendala satu dan lain hal.

Selain mengeluarkan kebijakan untuk mengkonversi BBG dengan BBM, pemerintah juga menetapkan kebijakan untuk mengalihkan penggunaan BBM  untuk industri, transportasi dan pembangkit listrik dengan BBN (bahan bakar nabati). Beberapa tahun lalu, Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, sempat mengganti beberapa BBM kendaraan Trans Pakuan dengan BBN. Otoritas setempat memanfaatkan minyak goreng bekas yang sudah tidak terpakai dimanfaatkan untuk bahan bakar kendaraan Trans Pakuan tersebut.

Untuk memudahkan pengumpulan minyak goreng habis pakai, saat itu Pemerintah Kota Bogor bekerjasama dengan beberapa instansi, salah satunya dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor. Saya kurang tahu program tersebut saat ini masih berlangsung atau tidak. Hanya saja dulu program itu cukup berhasil.

KURANGI KENDARAAN PRIBADI

Berdasarkan data yang dirilis Metrotvnews.com, pola konsumsi BBM di Indonesia sedikit berbeda bila dibandingkan dengan negara lain. Negara lain lebih banyak memanfaatkan BBM untuk keperluan industri, sementara di Indonesia hampir 90 persen BBM digunakan untuk sektor transportasi yang didominasi oleh kendaraan pribadi. Situs tersebut menyebutkan, hanya sekitar tiga hingga lima persen saja BBM dinikmati oleh angkutan umum, sisanya dinikmati oleh kendaraan pribadi.

Data yang dirilis Buku BPPT-Outlook Energi Indonesia 2014 mungkin dapat dijadikan contoh. Berdasarkan buku tersebut, jumlah kendaraan pribadi di DKI Jakarta mencapai 96,5 persen untuk melayani 44 persen perjalanan, sementara jumlah angkutan umum hanya 3,5 persen dengan jumlah pelayanan 56 persen perjalanan.

Bandingkan! Perbedaan persentase jumlah kendaraan sangat tajam – kendaraan umum perbandingannya tidak sampai 10 persen dengan kendaraan pribadi, namun melayani jumlah perjalanan yang lebih banyak. Apalagi tiga persen dari perjalanan tersebut dilayani oleh KRL (kereta api) Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-tangerang-Bekasi). Itu berrati kendaraan umum yang berbentuk roda dua dan empat hanya berjumlah 0,5 persen.

Sama halnya dengan Jakarta, Batam, Kepulauan Riau juga demikian. Kendaraan pribadi sangat mendominasi. Jumlah kendaraan di kota yang berbentuk kalajengking tersebut selalu meningkat setiap tahun. Bila dirata-rata, pertumbuhan roda dua di Kota Batam mencapai 5.000/bulan, dan kendaraan roda empat 500 hingga 600 unit/bulan. (Batam Pos)

Hingga pertengahan 2013, jumlah kendaraan di Kota Batam mencapai 776.343 motor dan 259.843 mobil. Padahal luas kota tersebut hanya 415 km2. Bila laju pertumbuhan kendaraan tidak ditekan, kemacetan di Kota Batam bisa-bisa terus mengular. Saat ini kemacetan kerap terlihat pada jam-jam tertentu di beberapa lokasi. Apalagi Batam tidak terhubung dengan kota lain dengan jalur darat.

Seperti yang kita tahu, kemacetan sangat merugikan. Kemacetan tidak hanya berdampak pada kehilangan waktu si pengendara, namun juga berakibat pemborosan energi (BBM). Semakin lama kendaraan berada di jalan dengan mesin yang menyala, berarti semakin banyak BBM yang terbuang.

Umumnya masyarakat Batam terpaksa membeli kendaraan pribadi karena memang tidak ada angkutan umum masal yang memadai. Tidak semua lokasi di Batam dapat diakses oleh angkutan umum masal – bahkan untuk lokasi strategis di tengah kota. Itu makanya, demi mengurangi pengeluaran, masyarakat Kota Batam banyak yang membeli kendaraan pribadi. Bahkan beberapa ada yang memilih membeli kendaraan dulu, baru membeli rumah. Mungkin daripada aktifitas terhambat, lebih baik memaksakan diri membeli kendaraan roda dua atau empat.

Mungkin ini PR bagi pemerintah untuk menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, dan terjangkau agar angkutan pribadi dapat dikurangi sehingga diharapkan dapat berdampak pada berkurangnya konsumsi BBM. Bila angkutan umum masal nyaman, masyarakat diharapkan dapat lebih tertarik untuk “menaggalkan” kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum.

Selain menyediakan angkutan umum yang aman, nyaman, dan terjangkau, pemerintah mungkin ada baiknya menekan jumlah kendaraan pribadi dengan melakukan program “One In, One Out”. Batam sempat menjalankan program tersebut pada tahun 2000 dan berjalan cukup baik. Jumlah kendaraan di kota yang berpulau-pulau tersebut cukup terkendali.

Namun entah mengapa pada tahun 2002 program tersebut dihentikan. Alhasil usai program tersebut tidak lagi dijalankan, kini jumlah kendaraan di Kota Batam kian bertambah setiap saat. Padahal bila program tersebut konsisten dijalankan hingga kini, mungkin jalanan di Kota Batam akan lancar setiap saat seperti beberapa tahun lalu. Tidak akan ada kemacetan dijalur utama seperti saat ini.

BUDAYAKAN BERSEPEDA DAN BERJALAN KAKI

Untuk menghemat BBM, pemerintah juga ada baiknya menyediakan trotoar yang aman dan nyaman. Sehingga, untuk lokasi yang cukup dekat masyarakat lebih tertarik untuk berjalan kaki dibandingkan harus menggunakan kendaraan, baik pribadi maupun kendaraan umum. Hanya saja terkadang untuk jalan-jalan tertentu, tidak ada trotoar – kalaupun ada sudah dikuasai oleh pedagang ataupun pihak lain yang menyebabkan pejalan kaki tidak nyaman.

Kota Batam misalkan, banyak jalan-jalan utama yang tidak memiliki trotoar sehingga pejalan kaki sedikit was-was kalau harus berjalan kaki. Apalagi laju kendaraan di kota yang dipimpin oleh Ahmad Dahlan tersebut cukup kencang. Bila tidak hati-hati, malah khawatir terserempet kendaraan yang melaju kencang.

Selain itu, pemerintah mungkin ada baiknya mulai menggalakan penggunaan sepeda untuk keperluan sehari-hari. Saat ini masyarakat sepertinya lebih cenderung menyukai sepeda motor untuk digunakan sebagai kendaraan (jarak dekat) seperti ke pasar atau mengantar anak sekolah. Jarang rasanya melihat seorang ibu/ayah yang membonceng anaknya dengan sepeda seperti zaman dulu saat mengantarkan anak ke sekolah.

Ada baiknya pemerintah mengijinkan anak-anak sekolah negeri(mungkin siswa SD/SMP) untuk membawa sepeda sendiri. Apalagi bila lokasi sekolah dan rumah berada disatu kompleks yang sama. Mungkin tidak harus diwajibkan, namun diizinkan untuk membawa sepeda ke sekolah. Apalagi biasanya siswa SD sedang semangat-semangatnya bermain sepeda. Pihak sekolah (negeri dengan dana dari pemerintah) menyediakan tempat penyimpanan sepeda yang aman sehingga siswa tidak merasa khawatir saat meninggalkan sepeda mereka selama proses belajar mengajar berlangsung.

Bila sejak kecil mereka dibiasakan menggunakan sepeda, bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan saat mereka dewasa lebih menyukai menggunakan sepeda untuk mendukung aktifitas sehari-hari dibanding menggunakan mobil atau motor – seperti halnya di Jepang, Belanda, atau negara lain yang sangat mendukung dan mencintai moda kendaraan sepeda.

Jepang bahkan sudah mengatur pengendara sepeda dengan cukup jelas – bahkan aturan untuk memarkirkan sepeda. Bila pengendara memarkirkan sepeda diluar yang sudah ditentukan, pemilik sepeda bisa diberi peringatan. Bila peringatan tersebut tidak diindahkan juga, sepeda akan diangkut oleh petugas.

Seperti halnya pelanggaran lain, setiap masyarakat yang tidak mamatuhi aturan akan dikenakan denda. Begitupula dengan pengendara sepeda di Jepang yang tidak taat aturan. Bila mereka parkir sembarangan akan dikenakan sanksi yang sepertinya akan membuat si pengendara cukup jera.

Selain menerapkan sanksi, pemerintah Jepang juga memfasilitasi pengendara sepeda. Pihak pemerintah menyiapkan fasilitas parkir yang aman dengan biaya yang terjangkau. Sehingga, mereka tidak hanya konsen ke sanksi namun juga berkomitmen menyiapkan fasilitas yang diperlukan.

Mungkin pemerintah Indonesia juga harus pelan-pelan mulai menyediakan fasilitas parkir yang aman untuk pesepeda. Apalagi kondisi Indonesia sedikit berbeda dengan Jepang, khawatirnya saat sepeda diparkir, hilang diambil orang. Sepeda motor yang dikunci dan berat saja bisa hilang, apalagi sepeda?

Selain fasilitas parkir, pemerintah juga mungkin secara bertahap harus mulai menyediakan fasilitas peseda dijalan raya sehingga akan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menggunakan sepeda sebagai pendukung aktifitas sehari-hari. Orang Indonesia umumnya mengikuti tren, bila sudah mulai banyak yang menggunakan sepeda untuk aktifitas sehari-hari, akan lebih banyak lagi orang yang menggunakan sepeda.

Saat ini sebenarnya di Batam sudah mulai menggalakan penggunaan sepeda untuk kegiatan sehari-hari terutama di wilayah pemerintahan – sekitar Batam Centre, hanya saja meski sudah digalakan beberapa tahun lalu, program tersebut belum berjalan dengan sempurna. Fasilitas jalan untuk pesepeda belum ada – baru ada himbauan untuk lebih memperhatikan pesepada yang dibuat tanda di beberapa titik jalan.

Pegawai pemerintahan juga sepertinya masih belum tergerak untuk memanfaatkan sepeda sebagai alat transportasi di areal tersebut. Mereka masih lebih nyaman menggunakan motor atau mobil, padahal tiga tahun lalu beberapa kantor diareal tersebut dihimbau untuk menggunakan sepeda saat berkunjung dari satu kantor ke kantor lain.

Sebagai gambaran, pusat pemerintahan di Kota Batam hampir terpusat di Batam Centre. Kantor Pemerintah Kota Batam, Kantor BP Batam, Bank Indonesia, Jasa Raharja, Bright PLN hingga Samsat, berlokasi di daerah tersebut dengan jarak yang relatif dekat. Sehingga, itu makanya mungkin Pemerintah Kota Batam menggalakan program bersepeda.

Sepertinya hampir semua orang tahu bahwa, bersepeda memiliki banyak keuntungan. Apalagi bila bersepeda tersebut menjadi suatu kegiatan yang membudaya. Selain menghemat konsumsi BBM, juga akan membuat lingkungan lebih sehat. Seperti yang kita tahu, tidak ada gas buangan dari sepeda. Itu berarti bila sepeda lebih banyak digunakan untuk beraktifitas, polusi udara di kota tersebut akan berkurang.

Berkurangnya polusi akan berdampak baik pada masyarakat maupun pemerintah. Masyarakat dapat lebih sehat, pemerintah juga dapat lebih menghemat anggaran kesehatan. Apalagi saat ini sudah diwajibkan bagi seluruh warga negara Indonesia untuk memanfaatkan program BPJS Kesehatan sebagai fasilitas kesehatan. Sebagian anggaran kesehatan tersebut disediakan oleh pemerintah – terutama bagi masyarakat tidak mampu.

Bersepeda juga memberikan keuntungan pribadi bagi masyarakat. Salah satunya adalah lebih sehat. Saat melakukan aktifitas sehari-hari dengan bersepeda, kita melakukan olahraga tanpa kita sadari. Berdasarkan penelitian, orang yang rutin berolahraga umumnya hidup lebih bahagia. Jadi siapkah kita lebih bahagia? Siapkah pemerintah mendukung masyarakat lebih bahagia?

 

LEBIH HEMAT GUNAKAN LISTRIK

Sama seperti halnya kendaraan, listrik juga menggunakan BBM untuk tetap menyala dan dapat dinikmati oleh pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN) di seluruh Indonesia. Itu makanya, bila menghamburkan listrik, berarti kita juga menghamburkan BBM. Hal tersebut dikarenakan, PLN masih menggunakan listrik sebagai penggerak untuk pembangkit listrik – meski tidak lagi sepenuhnya.PLN belum sepenuhnya dapat meninggalkan BBM karena masih minimnya gas dan batu bara yang dapat dimanfaatkan untuk mengganti bahan penggerak pembangkit listrik tersebut.

Beberapa dekade ini PLN masih banyak menggunakan BBM. Hal tersebut dikarenakan pembangkit listrik PLN umumnya mengandalkan teknologi diesel yang sangat boros dan menyebabkan biaya tinggi. Sehingga, saat harga minyak dunia naik, otomatis PLN juga menuntut untuk menaikan tarif.

Pemerintah (melalui PLN) mungkin ada baiknya melakukan edukasi hemat listrik ke sekolah, perguruan tinggi ataupun masyarakat secara berkala. Jangan hanya melalui media seperti surat kabar, situs berita, dan flyer, namun juga didatangi langsung dan dipaparkan secara terperinci apa saja keuntungan menghemat listrik – baik keuntungan bagi pribadi pelanggan, maupun bagi pemerintah.

Mungkin ada baiknya diberikan contoh hitung-hitungan sederhana. Bila masyarakat mematikan satu lampu yang tidak terpakai, dapat menghemat berapa biaya yang harus dikeluarkan pelanggan, dan berapa BBM yang dapat dihemat pemerintah. Kalau mematikan komputer yang sudah tidak lagi digunakan akan menekan tagihan berapa banyak, dan berapa banyak BBM yang dapat dikurangi.

Edukasi secara langsung tersebut diharapkan akan membuat masyarakat lebih paham dan merasa memiliki. Sehingga, tanpa diminta mereka akan menghemat energi listrik yang notabene sebagian operasionalnya masih menggunakan BBM.

Selain itu, bila edukasi diberikan kepada anak sekolah diharapkan akan lebih tertanam. Anak-anak umumnya lebih cepat paham. Mereka juga biasanya tidak segan menegur bila ada orang dewasa atau teman sebaya mereka yang menggunakan energi listrik tidak seperti yang diharapkan.

Bila perlu, agar anak-anak tersebut sejak dini lebih peduli hemat listrik dan BBM, masukan edukasi tersebut ke dalam kurikulum sekolah. Bila tidak mungkin diberikan pelajaran secara khusus, ada baiknya mungkin setiap guru di sekolah diberikan pemahaman dan diharapkan mengimplementasikan dan selalu mengingatkan siswa agar lebih bijak menggunakan listrik dan BBM.

Apalagi mungkin anak-anak tersebut ke depan akan menjali calon pemimpin di negeri kita tercinta ini, sehingga bila sejak kecil mengetahui sumber enregi listrik dan BBM itu terbatas, kelak saat mereka menjadi pimpinan akan membuat kebijakan yang lebih pro untuk keberlangsungan energi listrik dan BBM.

Bukan tidak mungkin beberapa dari mereka akan ada yang menjadi ilmuwan, sehingga saat tahu BBM sudah mulai sulit diproduksi di Indonesia dan energi listrik salah satunya menggunakan BBM, mereka akan mencari alternatif lain sebagai sumber energi untuk memproduksi listrik. Mungkin bukan dengan batu bara atau gas, seperti yang saat ini sudah mulai dilakukan oleh PLN, namun dengan energi lain yang melimpah ruah dan tidak harus menyedot dari perut bumi.

Siapa tahu kedepan akan ada anak Indonesia yang mencipatakan moda transportasi dengan energi surya dan digunakan secara masal di negeri kita tercinta ini. Sehingga, penggunaan BBM dan listrik dapat ditekan – bahkan bila memungkinkan ditiadakan. Siapa tahu kan? Apalagi saat ini banyak ilmuwan Indonesia yang juga mampu menciptakan alat-alat canggih, meski mirisnya beberapa dari mereka malah mengabdi bagi negara lain.

Mudah-mudahan, saat pemerintah sibuk mencari solusi untuk menghemat energi, kita sebagai warga negara tidak berpangku tangan. Bila kita sebagai warga negara bisa mendukung penghematan BBM, listrik, dan energi lainnya, mengapa tidak? Ayo kita lebih bijak menggunakan BBM, listrik dan energi lainnya. (*)

Share This:

2 thoughts on “Ini Solusi Menekan Penggunaan BBM Berlebih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *