Pesona Ramadan 2018: Berburu Olahan Laut di Pasar Ramadan Tanjung Uma

Pedagang ikan bakar di Pasar Ramadan Tanjung Uma, Batam. | Dokumentasi Pribadi

Pedagang ikan bakar di Pasar Ramadan Tanjung Uma, Batam. | Dokumentasi Pribadi

Minggu (20/5), awan menggelayuti Kota Batam, Kepulauan Riau. Hitam, pekat, membuat siapapun yang melihat ingin tetap bergelung di bawah selimut yang hangat. Gelapnya awan kemudian memudar, berganti dengan rintik hujan yang semakin lama semakin lebat.

Sesekali tetesan hujan tersebut berhenti, seolah mengambil napas di sela lari marathon, kemudian lanjut kembali dengan guyuran air yang semakin banyak. Berkali-kali bahkan diselingi suara guntur. Sinarnya cukup menyilaukan mata dengan gema yang memekakan telinga.

Suasana Pasar Ramadan Tanjung Uma. | Dokumentasi Pribadi

Suasana Pasar Ramadan Tanjung Uma. | Dokumentasi Pribadi

Beruntung, saat senja menjelang tetesan air tersebut berhenti mengguyur secara total. Perlahan langit terlihat lebih terang. Meski suhu udara terasa masih dingin dan lembab. Beberapa jalanan pun masih tergenang, menampung sisa-sisa air hujan yang belum meresap sepenuhnya.

Dengan ragu saya dan suami bergegas mematut diri, bersiap menuju Pasar Ramadan Tanjung Uma, menjelajah aneka olahan laut segar yang dimasak penduduk dengan harga jual yang sangat terjangkau, berburu aneka makanan tradisional Melayu yang dijual mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000/porsi.

Pedagang ikan bakar di Pasar Ramadan Tanjung Uma, Batam. | Dokumentasi Pribadi

Pedagang ikan bakar di Pasar Ramadan Tanjung Uma, Batam. | Dokumentasi Pribadi

Kami sebenarnya sempat berpikir untuk menunda “penjelajahan” tersebut, namun khawatir di hari lain malah justru cuaca semakin tidak mendukung, kami pun memiliki agenda lain untuk dilakukan. Terlebih kami sudah merencanakan kunjungan tersebut jauh-jauh hari sebelum Ramadan menjelang.

Bagi sebagian besar warga Batam, Pasar Ramadan Tanjung Uma menjadi destinasi wajib kunjung saat puasa berlangsung. Ramadan tanpa berkunjung ke pasar ini seperti kurang afdol. Pasalnya, pasar yang sudah beroperasi sejak tahun 1990-an itu hanya buka satu tahun sekali, saat Ramadan, mulai pukul 14:00 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Penjual gong gong, udang, kepiting dll. | Dokumentasi Pribadi

Penjual gong gong, udang, kepiting dll. | Dokumentasi Pribadi

Apalagi berdasarkan keterangan beberapa penjual, pasar dadakan itu biasanya ramai dari hari pertama Ramadan hingga minggu ketiga, setelah itu Pasar Ramadan Tanjung Uma mulai sepi, baik pengunjung maupun penjual. Penjual sibuk mempersiapkan keperluan untuk hari raya, sementara pembeli sudah mulai banyak yang pulang kampung.

Surga Olahan Seafood

Setiap kali berkunjung ke sana, saya selalu kagum dengan olahan seafood yang ditawarkan. Selain lengkap, banyak, segar dan murah, hewan-hewan laut yang dijual juga begitu spesial. Ukurannya biasanya besar luar biasa. Ikan-ikan yang dijual bisa dua kali ukuran telapak tangan orang dewasa.

Ada penjual Roti Canai juga. | Dokumentasi Pribadi

Ada penjual Roti Canai juga. | Dokumentasi Pribadi

Ikan-ikan yang berukuran besar umumnya ditawarkan setelah diberi bumbu dan dibakar secara langsung di depan pengunjung. Harga yang ditetapkan juga cukup variatif, tergantung dari ukuran ikan tersebut dan kebijakan dari si penjual. Sst… memang bisa ditawar, meski tak tega juga bila menawar terlalu sadis. Saya dapat ikan bakar yang lumayan besar seharga Rp60.000, padahal bila di tempat lain belum tentu dapat.

Selain ikan, ada juga kepiting, ikan pari, udang, sotong yang berukuran jumbo. Kepiting biasanya ditawarkan setelah diberi bumbu asam pedas dan dikemas dalam styrofoam, sementara ikan pari dan sotong besar ditawarkan dengan cara dibakar dan diberi bumbu berwarna kuning.

Suasananya ramai seperti ini, bila ingin lebih lengang, datang saat siang sekitar pukul 14:00 hingga 15:00 WIB. Semakin sore semakin ramai. | Dokumentasi Pribadi

Suasananya ramai seperti ini, bila ingin lebih lengang, datang saat siang sekitar pukul 14:00 hingga 15:00 WIB. Semakin sore semakin ramai. | Dokumentasi Pribadi

Bila enggan mencicip seafood yang berukuran super, kita bisa memilih aneka olahan laut yang berukuran lebih kecil, yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Biasanya olahan tersebut dikemas dalam styrofoam, diberi bumbu asam pedas, atau hanya digoreng/dikukus biasa dan diberi sambal. Harga yang ditawarkan juga lebih terjangkau, mulai dari Rp10.000 hingga Rp30.000/porsi.

Beberapa pengunjung ada yang memilih membeli ikan dan aneka seafood yang masih mentah. Saat saya iseng bertanya, jawabannya karena ingin memasak sendiri dengan bumbu andalan yang mereka kuasai. Selain itu, biar bisa di makan beramai-ramai saat berbuka puasa bersama keluarga besar di hari lain.

Ada penjual kurma juga. | Dokumentasi Pribadi

Ada penjual kurma juga. | Dokumentasi Pribadi

Selain yang sudah matang, ada juga beberapa penjual ikan dan seafood yang belum diolah. Namun memang jumlah penjualnya tidak sebanyak seafood-seafood olahan. Selain itu, penjualnya menempati lokasi yang sedikit di dalam, bukan persis di pintu masuk seperti penjual ikan/sotong/udang bakar.

Meski demikian, di setiap penjual ikan bakar sebenarnya ada satu wadah besar berwarna putih yang berisi ikan-ikan segar yang belum diolah. Saya tidak sempat bertanya, apakah ikan-ikan tersebut juga dijual dalam kondisi mentah, atau hanya dijual setelah dibakar oleh si pedagang.

Tersedia Beragam Takjil dan Kue Tradisional Melayu

Selain aneka seafood, di pasar tradisional yang berlokasi di pemukiman penduduk tersebut juga tersedia beragam takjil, mulai dari kurma, kue lumpur, kue talam, sarang semut, onde-onde, hingga aneka donat dan gorengan. Harga yang ditawarkan bervariatif, bahkan ada yang dijual dengan harga Rp1.000/buah.

Penjual laksa, epok epok dan bingka. | Dokumentasi pribadi

Penjual laksa, epok epok dan bingka. | Dokumentasi pribadi

Saya sendiri lebih suka kue-kue khas Melayu yang sudah jarang ditemui di luar Bulan Ramadan. Saya suka kue putu piring yang rasanya mirip seperti dodongkal, makanan trdasional khas Jawa Barat. Namun bila dodongkal biasanya berbentuk segi panjang atau segitiga, putu piring bentuknya bulat, seperti piring mini.

Laksa. | Dokumentasi Pribadi

Laksa. | Dokumentasi Pribadi

Hal tersebut dikarenakan putu piring dibuat dengan menggunakan tutup gelas. Tutup gelas tersebut digunakan untuk menutupi kain yang berisi adonan putu yang diletakan disebuah wadah yang dibawahnya berisi air mendidih. Kain itu berlubang-lubang kecil seperti untuk mengukus nasi.

Penjual putu piring. Kurang dari tiga jam habis lima kilo adonan. | Dokumentasi Pribadi

Penjual putu piring. Kurang dari tiga jam habis lima kilo adonan. | Dokumentasi Pribadi

Saya sempat terpesona melihat ibu-ibu penjual putu piring beraksi membuat kue yang sekarang sudah langka dijual di Batam tersebut. Ibu itu dengan cekatan mengambil adonan, kemudian mengukusnya, tidak sampai lima menit deretan putu piring sudah berjejer rapi siap dikemas.

Putu piring itu dijual Rp5.000 per porsi. Setiap porsi terdiri dari tiga kemasan yang dibungkus dengan daun pisang. Setiap bungkus daun pisang terdiri dari dua putu piring. Bila ditotal, dengan mengeluarkan uang Rp5.000 kita bisa mendapatkan enam putu piring hangat yang lezat untuk disantap saat berbuka puasa.

Putu piring. Dokumentasi Pribadi

Putu piring. Dokumentasi Pribadi

Harga tersebut menurut saya sangat terjangkau. Apalagi membuat putu piring butuh tenaga ekstra. Menurut ibu penjual putu piring, tepung beras yang menjadi bahan utama harus direndam sekitar lima jam, belum lagi digiling, belum lagi menyiapkan gula merah dan parutan kelapa untuk campuran kue tersebut.

Mungkin itu makanya, ibu berhijab tersebut merupakan penjual satu-satunya putu piring di Pasar Ramadan Tanjung Uma. Selain itu, sebelum jam berdentang ke pukul 17:00 WIB, kue berwarna kuning tersebut sudah habis terjual, tak bersisa. Bahkan terpaksa harus membuat beberapa pembeli kecewa, karena sudah datang jauh-jauh namun tidak kebagian kue tradisional tersebut.

Banyak penjual makanan rumahan dan aneka es. Dokumentasi Pribadi

Banyak penjual makanan rumahan dan aneka es. Dokumentasi Pribadi

Selain putu piring, ada juga kue bingka, laksa dan epok epok. Bingka dan laksa dijual Rp10.000 per porsi. Laksa ada dua pilihan, yang plain atau tanpa rasa dengan tampilan putih keabuan, dan yang pedas berwarna merah cenderung oranye. Beli yang plain maupun yang pedas tetap akan mendapatkan bumbu yang dikemas dalam kantong plastik kecil, bumbu tersebut terasa gurih karena terbuat dari olahan ayam. Buat saya yang pecinta pedas, lebih suka laksa pedas.

Bagaimana Menuju ke Sana?

Pasar Ramadan Tanjung Uma berada di sekitar pemukiman penduduk. Cukup jauh dari jalan raya utama, sehingga disarankan membawa kendaraan sendiri. Dari jalan raya seberang Diamond City (DC) Mall, kita belok kiri mengambil jalan ke arah Kampung Tua Tanjung Uma. Jalannya sedikit menanjak, sebelah kiri lahan luas berumput, sebelah kanan hamparan bangunan yanga ada di sekitar Jodoh dan Nagoya. Kita terus lurus, melewati gapura Kampung Tua Tanjung Uma mengikuti jalan besar hingga mentok dan menemukan lapangan yang cukup luas.

Setelah sampai di lapangan, saya dan suami memilih memarkirkan kendaraan di sana, meski lokasi pasar masih lumayan jauh, sekitar 300 meter lagi ke arah kiri dari lapangan. Kami memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Bukan, apa-apa nanti bila parkir di dekat pasar tidak bisa pulang cepat karena pengunjung yang lumayan padat. FYI, jalan aspalnya kecil, hanya cukup untuk satu kendaraan roda empat.

Saya dan anak yang cemberut, karena jalan lumayan jauh. | Dokumentasi Pribadi

Saya dan anak yang cemberut, karena jalan lumayan jauh. | Dokumentasi Pribadi

Meski demikian ada beberapa kendaraan roda empat yang memaksakan diri parkir di sekitar pasar –kalau kendaraan roda dua memang disediakan parkir di sekitar pasar itu, alhasil pengunjung yang sudah berdesak-desakan, semakin berdesakan karena ada mobil yang memaksakan diri  lewat. Mungkin ada baiknya ke depan, ada batasan dimana mobil boleh parkir, jangan memaksakan parkir sampai mepet ke pasar, kecuali memang penduduk di wilayah tersebut.

Bila tidak hujan dan berkunjung berdua tanpa membawa anak kecil, memang lebih enak membawa kendaraan roda dua. Nanti tidak akan terlalu letih berjalan menyusuri jalan menuju pasar tersebut. Apalagi motor juga biasanya lebih fleksibel, mudah dibelokan, kalaupun macet parah, tinggal minta bantuan orang lain untuk digotong hehe.

Jangan Terkecoh dengan Bazar di Sekitar Pasar

Beberapa kilo meter sebelum Pasar Ramadan Tanjung Uma ada banyak penjual makanan untuk berbuka di sepanjang jalan. Bila baru pertama kali datang, bisa terkecoh menyangka itu adalah Pasar Ramadan Tanjung Uma, padahal bukan. Umumnya penjual di lokasi tersebut menjual masakan rumahan dan kue-kue.

Begitu juga saat sampai dilapangan, ada tenda-tenda yang berderet rapi yang menjual beragam penganan, termasuk ikan bakar. Bila tidak melihat gerombolan orang yang belok ke arah kiri, saya sempat menyangka, jangan-jangan Pasar Ramadan Tanjung Uma sudah pindah ke lapangan tersebut.

Namun ternyata tidak, Pasar Ramadan Tanjung Uma tetap berada di lokasi biasa yang sudah mereka rintis sejak tahun 1990-an. Bazar di sekitar lapangan merupakan penjual tambahan yang sepertinya disponsori oleh salah satu (calon) anggota DPD RI. Entah betul atau tidak. Saya hanya melihat nama dan foto si bapak calon tercetak di tenda-tenda yang berderet rapi tersebut.

Deretan tenda di lapangan sebelum Pasar ramadan Tanjung Uma. | Dokumentasi Pribadi

Deretan tenda di lapangan sebelum Pasar ramadan Tanjung Uma. | Dokumentasi Pribadi

Saya tidak sempat berbelanja di bazar tersebut, hanya melihat sepintas. Namun bila waktu yang dimiliki cukup singkat, namun ingin menikmati aneka seafood segar tangkapan nelayan yang diolah penduduk sekitar Tanjung Uma, bisa juga membeli di tenda tersebut. Sepertinya sama saja. Hal yang jadi pembeda hanya suasana dan pilihan jajanan.

Bila di Pasar Ramadan Tanjung Uma suasananya memang sangat ramai, kampung yang berubah jadi pasar, makanan dan jajanan yang ditawarkan juga luar biasa beragam, namun di tenda-tenda sekitar lapangan jenisnya sedikit terbatas. Mungkin karena penjualnya juga lebih sedikit.

Ramadan tahun ini teman-teman sudah juga kah berkunjung ke Pasar Ramadan Tanjung Uma? Kalau sudah yuk berbagi cerita keseruan disana di kolom komentar. Salam Bataminenglish! (*)

Share This:

20 thoughts on “Pesona Ramadan 2018: Berburu Olahan Laut di Pasar Ramadan Tanjung Uma

    1. Iya seru banget berburu seafood dan masakan rumah lain di pasar ini.

    1. Iya enak-enak lagi ya, bahkan buat yang bukan pecinta ikan.

  1. sudah banyak baca soal ini tapi belum sempat kesana, katanya masuk-masuk gang gitu ya? tambah pengen ih

    1. Iya kesana Kak, seru deh. Kalau ga mau terlalu desak-desakan, datang agak siang pas pasar belum buka. Semakin sore semakin rame biasanya.

      1. Pas pasar baru buka maksudnya. Halah kalau belum buka mah memang sepi hehe.

  2. Hihi, si kakak bete itu suruh jalan puasa-puasa. Langsung ngebayangin anak2 pasti juga bakal cemberut kalau suruh jalan kaki sejauh itu. Entah dari kapan mau kesitu gak jadi2 terus. Ngiler lihat seafood bakarnya yang kayaknya enak banget.

    1. Iya pegal katanya kakinya karena jalan lumayan jauh, mana puasa lagi hehe. Iya enak Mbak seafoodnya khas olahan pesisir gitu. Ikannya apalagi, saya aja yang ga terlalu suka ikan, suka banget.

  3. Memanglah kurang afdol Ramadan tanpa jajan di Pasar Ramadan Tanjung Uma. Cuma, yang agak bikin males itu desak-desakannya itu.. Kenapa jalannya musti kecik sangat seperti itu yaaa, agak lapang dikit napa. haha *protes. Mungkin, desak-desakan itu juga menambah seni berburu olahan laut ataupun takjil di Pasar Ramadan itu ya teh..

    1. Iya bisa jadi Mbak biar lebih berasa pasar dadakannya. Lumayan keringetan lho desak-desakan di sana, apalagi pemanggang ikannya lumayan bikin semakin gerah juga pas rame begitu. Enaknya memang berangkat lebih awal sih biar ga terlalu rame dan lebih leluasa memilih. Makanan yang dijual juga lebih lengkap. Kalau semakin sore, beberapa ud banyak yang habis.

  4. hahahah sennag banget kemarin ke sini , aku asik berburu video, belanja smabil ngobrol dengan yang dagang. enaknya datang lebih awal nggak terlalu padat

    1. Iya kalau datang lebih awal lebih leluasa, kalau semakin mendekati magrib, luar biasa ramenya. Apalagi Sabtu-Minggu atau hari libur.

  5. Rame ya tg uma.. Baru tahu, loh… Coba aja kalau dekat, pasti saya datangi.. thanks for sharing mbak.

    1. Iya setiap tahun rame banget Kak. Nanti kalau Ramadan kapan ke Batam wajib mampir.

    1. Padahal kalau di kota lain, jarak yang sama antara Batu Aji ke Tanjung Uma lumayan dekat lho, tapi kalau di Batam beda kecamatan itu berasa jauh ya Kak. Efek semuanya serba dekat. Dari rumah juga berasa jauh sih, padahal rumah saya di Sungai Panas, ga jauh-jauh amat kalau ke Tanjung Uma. Cuma 15 menitan ke jalan masuk, ke pasarnya sekitar 10 menit, total 25 menitan.

  6. Wah asyik banget ya pesona ramadhannya… Banyak menu makanannya… Tanjung Uma termasuk bagian dari daerah mana

    1. Iya pilihan makanannya banyak banget. Masuk Kecamatan Lubuk Baja Kak, jalan masuknya seberang DC Mall situ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *