Menggagas Koperasi Digital untuk Menggaet Generasi Milenial

Gambar diambil dari gogirl.id

Gambar diambil dari gogirl.id

Koperasi pernah mengalami masa keemasan. Hampir di setiap titik sebuah desa berdiri Koperasi Unit Desa (KUD), belum lagi Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Beranjak ke perkotaan, ada banyak koperasi yang berada dibawah naungan instansi, lembaga, hingga perusahaan-perusahaan besar.

Dulu, pengurus dan anggota koperasi tak hanya orangtua, banyak juga kalangan muda yang terlibat dalam badan usaha yang berbasis kerakyatan tersebut. Namun sayang, zaman telah berubah. Koperasi kini tak secemerlang dulu, terlebih bagi kalangan generasi milenial. Kalangan yang lahir pada tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an tersebut lebih akrab dengan kartu kredit atau KTA dibanding dengan simpanan pokok atau SHU.

Koperasi identik dengan kata kuno, ketinggalan zaman. Generasi milenial berpikir, anggota koperasi pasti para orangtua yang umumnya kesulitan mengakses fasilitas perbankan. Selain itu, sistem koperasi pasti sederhana, dikelola secara kekeluargaan, dan jauh dari kata profesional. Meski kenyataannya tidak semua koperasi seperti itu.

Dulu saat saya masih bekerja di salah satu perusahaan multinasional, perusahaan memiliki koperasi yang dikelola cukup profesional. Pengurus koperasi mempekerjakan beberapa orang yang ahli dalam bidang keuangan. Selain itu, koperasi juga tak hanya diisi dengan kegiatan simpan-pinjam antar anggota, atau menjual aneka barang kebutuhan sehari-hari di sebuah kios.

Namun juga menawarkan produk kekinian yang cukup banyak diminati, salah satunya adalah tiket pesawat. Menariknya, tiket pesawat tersebut dapat dibeli oleh anggota koperasi secara tunai maupun kredit. Alhasil, tidak sedikit para generasi milenial di (mantan) kantor tempat saya bekerja tersebut yang menjadi anggota koperasi.

Menawarkan Produk Kekinian

Masa depan koperasi Indonesia ada di generasi milenial. Pada 2020 mendatang, generasi milenial Indonesia diperkirakan akan mencapai 60 persen dari total keseluruhan penduduk. Sehingga, bila generasi milenial tidak “melek” koperasi, bagaimana badan usaha tersebut akan berkembang?

Oleh karena itu, mungkin sejak saat ini penentu kebijakan, pengelola koperasi, hingga semua yang terlibat, harus mulai merangkul para generasi milenial untuk lebih “melek” koperasi, menyadarkan mereka bahwa koperasi memiliki banyak manfaat dibanding dengan memanfaatkan badan keuangan lain.

Salah satunya dengan menawarkan produk-produk kekinian. Bila dulu koperasi hanya menawarkan beras, susu, mie instan, dan produk kebutuhan rumah tangga lain yang diperlukan sehari-hari, saat ini mungkin secara bertahap harus menawarkan produk-produk yang dibutuhkan oleh anak muda, seperti kamera, ponsel, laptop, tongsis, memory card, dan pernak-pernik lain.

Bisa juga menawarkann tiket pesawat atau bahkan paket wisata. Koperasi bisa bekerjasama dengan beberapa biro perjalanan terkait paket-paket wisata yang ditawarkan, bisa lokal maupun mancanegara. Terlebih anak-anak zaman now sangat hobi traveling, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Bila ditawarkan oleh koperasi yang umumnya menerapkan harga lebih murah –atau bunga yang lebih kecil, bila dibayarkan secara kredit, saya yakin banyak anak muda yang lebih tertarik. Terlebih pengurus dan anggota koperasi umumnya adalah orang-orang yang mereka kenal, kalangan mereka sendiri, sehingga lebih terpercaya.

Memanfaatkan Teknologi Digital

Teknologi yang berkembang begitu pesat, sepertinya juga harus disikapi dengan tepat oleh pengelola koperasi. Bila dulu untuk mendaftar menjadi anggota koperasi harus datang ke kantor dan mengisi formulir dalam bentuk beberapa lembar kertas, ada baiknya saat ini tidak lagi dilakukan.

Calon anggota sebaiknya diminta mengisi dokumen secara digital, bisa melalui google doc atau aplikasi lain yang mendukung. Apalagi bila anggota baru yang ingin digaet adalah para generasi muda yang enggan repot. Jangan sampai mereka gagal direkrut sebagai anggota koperasi karena malas datang langsung untuk mengisi formulir.

Begitupula untuk aplikasi simpan-pinjam, ataupun penjualan produk yang dilakukan oleh koperasi. Sebaiknya dilakukan secara digital. Simpanan pokok yang wajib disetorkan anggota bisa dikirim melalui sistem transfer, penjualan produk bisa dilakukan secara online, begitupula dengan proses peminjaman atau kredit suatu barang, semua dilakukan secara digital. Tinggal menggunakan aplikasi, selesai.

Meski mungkin pengurus koperasi tetap juga bisa menawarkan pelayanan secara langsung. Namun untuk menjangkau anggota yang lebih luas, terutama dari kalangan milenial yang cukup potensial, ada baiknya pengurus koperasi memaksimalkan pelayanan digital –termasuk media sosial. Generasi tersebut umumnya sangat menyukai segala hal yang praktis. Mungkin itu makanya e-commerce sangat berkembang di Indonesia.

Menyiapkan Pengurus Profesional dan Melek Teknologi

Bila ingin terus berkembang dan mencapai puncak keemasan pengelolan koperasi harus dilakukan secara profesional. Pengurus koperasi harus disiapkan dengan baik, diberi pelatihan dan bimbingan, baik oleh instansi yang membawahi koperasi tersebut, maupun oleh pemerintah.

Pengurus harus diajarkan cara mengelola uang, menggaet kesempatan untuk mengembangkan koperasi tersebut, hingga diajari berbisnis. Meski koperasi adalah unit usaha yang berbasis kekeluargaan dan merupakan modal usaha bersama setiap anggota, agar tetap berkembang tetap saja harus memiliki insting bisnis. Terlebih pada zaman milenial seperti saat ini.

Selain itu mereka juga harus diajari bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan teknologi. Saat ini usaha yang dilakukan tanpa melibatkan teknologi hasilnya tidak akan maksimal. Terlebih bila pangsa pasar utama yang akan digaet adalah para anak muda yang sangat akrab dengan aneka teknologi.

Dengan pengelolaan yang tepat dan modern, saya yakin koperasi akan kembali “bersinar”. Terlebih para generasi milenial sangat selektif dalam memilih produk yang mereka pilih. Bila produk yang ditawarkan koperasi baik dan mereka butuhkan, bukan tidak mungkin mereka mulai melirik badan usaha tersebut. Semoga Koperasi Semakin Jaya. Salam Bataminenglish! (*)

Share This:

16 thoughts on “Menggagas Koperasi Digital untuk Menggaet Generasi Milenial

    1. Iya betul mas kalau mau dilirik memang harus disesuaikan sistem dan lain-lainnya untuk generasi tersebut.

    1. Iya keren banget, dikelola generasi milenial untuk kalangan milenial.

  1. Dulu familiar banget ama yang namanya koperasi waktu jaman-jaman SD SMP. Sampe ada mata pelajarannya ya waktu SMP.. Bakal keren nih kalo bakal ada koperasi digital

    1. Iya pas zaman sd dan smp booming banbget koperasi itu, sedikit-sedikit beli dikoperasi. Semoga setelah rebranding koperasi bisa mencapai masa keemasannya lagi.

    1. Iya semua harus ikut zaman dan teknologi biar tidak terkikis dan tertinggal.

    1. Iya jadi pengen gabung ya Mas kalau memang sudah ada yang berkonsep digital seperti ini.

  2. koperasi skrg kok kebanayakan fokus pada simpan pinjam ya kemudian bergeser ke jasa keuangan , padahal kalau dkemabngkan semangat gotong royongnya bagus

    1. Dulu pernah ngobrol sama salah satu pengurus koperasi, katanya yang paling laku dan dibutuhkan memang yang simpan pinjam. Tapi iya setuju banget, semangat gotong royongnya seharusnya lebih dikedepankan lagi, karena itulah kelebihan koperasi dibanding badan usaha lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *