Seru, Menyebrang dari Batam ke Bintan dengan Kapal Ferry ASDP

Siap-siap menyebrang dengan kapal ferry ASDP. | Dokumentasi Pribadi

Siap-siap menyebrang dengan kapal ferry ASDP. | Dokumentasi Pribadi

Batam, Kepulauan Riau, merupakan kota yang dikelilingi laut dan pulau-pulau kecil. Untuk menjangkau kota lain hanya ada dua pilihan transportasi, yakni transportasi laut dan udara. Umumnya bila bepergian ke kota yang berbeda provinsi, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, Pekanbaru, dan lainnya, masyarakat Batam lebih memilih untuk menggunakan transportasi udara.

Mengantre menyebrang dari Batam ke Bintan. | Dokumentasi Pribadi

Mengantre menyebrang dari Batam ke Bintan. | Dokumentasi Pribadi

Namun saat berkunjung kota atau kabupaten yang masih satu provinsi, masyarakat Batam lebih memilih menggunakan kapal ferry. Meski sebenarnya ada beberapa kota yang dapat dijangkau dengan pesawat terbang, salah satunya adalah Kota Tanjungpinang, yang menjadi ibukota Provinsi Kepulauan Riau.

Bersiap menyebrang dari Bintan ke Batam. | Dokumentasi Pribadi

Bersiap menyebrang dari Bintan ke Batam. | Dokumentasi Pribadi

Alasan memilih kapal ferry sebagai alat transportasi karena jadwal keberangkatan yang lumayan banyak. Kapal berangkat hampir setiap 15 menit, waktu tempuh juga tidak terlalu lama, dengan tiket cukup terjangkau. Terlebih untuk tujuan Batam-Tanjungpinang-Batam, atau Batam-Bintan-Batam.

Deretan motor yang dibawa menyebrang dari Batam ke Bintan. | Dokumentasi Pribadi

Deretan motor yang dibawa menyebrang dari Batam ke Bintan. | Dokumentasi Pribadi

Selain itu, bila menggunakan Kapal Ferry, terutama yang dikelola oleh ASDP Indonesia Ferry, yang melayani tujuan Telagapunggur, Batam, menuju Tanjunguban, Bintan, kita bisa membawa kendaraan sendiri, mulai dari sepeda, motor, mobil hingga bus dan truk. Sehingga, saat sampai di Tanjunguban, tidak perlu lagi repot mencari alat transportasi. Terlebih di Bintan hampir tidak ada transportasi umum, apalagi yang berjenis massal.

Bisa Membawa Kendaraan Pribadi

Saat menyebrang dari Batam ke Bintan tanpa membawa kendaraan, saya dan suami biasanya pergi langsung ke pelabuhan tanpa membeli tiket terlebih dahulu. Kami berpikir, kapal yang begitu besar masa iya tidak bisa mengangkut kami yang biasanya hanya pergi berdua, atau paling tidak bertiga dengan si anak semata wayang. Apalagi jadwal keberangkatan juga lumayan banyak.

Deretan kendaraan yang dibawa menyebrang dengan kapal ferry ASDP Batam-Bintan. | Dokumentasi Pribadi

Deretan kendaraan yang dibawa menyebrang dengan kapal ferry ASDP Batam-Bintan. | Dokumentasi Pribadi

Namun bila menyebrang dengan membawa kendaraan, saya dan suami biasanya mengurus semua surat-surat kendaraan terlebih dahulu. Maklum kendaraan bermotor di Batam sebenarnya tidak bisa dibawa keluar kota. Menyandang status free trade zone, membuat kendaraan di Batam sedikit istimewa.

Bisa melihat deretan kapal. | Dokumentasi Pribadi

Bisa melihat deretan kapal. | Dokumentasi Pribadi

Ada salah satu pajak yang tidak dipungut kepada pembeli, sehingga bila kendaraan tersebut dibawa keluar kota, harus mengurus surat izin terlebih dahulu. Beberapa bahkan ada yang harus membayar pajak tersebut. Namun bila kendaraan hanya dibawa ke Pulau Bintan, cukup hanya dengan mengurus surat izin, tanpa membayar sisa pajak.

Bisa melihat deretan kapal. | Dokumentasi Pribadi

Bisa melihat deretan kapal. | Dokumentasi Pribadi

Setelah semua surat lengkap, pada hari-h kami biasanya langsung menuju kapal yang sudah menunggu di pelabuhan. Petugas biasanya akan mengarahkan dimana kita harus parkir, terlebih bila kapal tersebut cukup penuh oleh berbagai kendaraan yang dibawa oleh penumpang.

Bisa melihat deretan kapal. | Dokumentasi Pribadi

Bisa melihat deretan kapal. | Dokumentasi Pribadi

FYI, terakhir kami menyebrang dengan menggunakan kapal ferry PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) kami harus membeli tiket Rp19.700 untuk satu orang dewasa, Rp14.400 untuk anak-anak, dan Rp227.000 untuk kendaraan roda empat berukuran sedang, untuk satu kali jalan dari Batam ke Bintan, atau sebaliknya.

Meihat deretan rumah penduduk khas pesisir. | Dokumentasi Pribadi

Meihat deretan rumah penduduk khas pesisir. | Dokumentasi Pribadi

Setelah memarkirkan kendaraan, kami biasanya langsung menuju badan kapal. Duduk-duduk sebentar sambil melihat hiburan dari televisi yang dipasang di sebelah utara dan selatan kapal. Selain itu, melihat-lihat jajanan yang ditawarkan oleh pengelola kantin, mulai dari biskuit hingga mie instan.

Kantin di kapal ferry Batam-Bintan, Bintan-Batam. | Dokumentasi Pribadi

Kantin di kapal ferry Batam-Bintan, Bintan-Batam. | Dokumentasi Pribadi

Bila perut keroncongan kami biasanya membeli mie instan yang diseduh dalam kemasan. Bila hanya ingin ngemil sambil menikmati sepoinya pendingin udara, biasanya kami hanya membeli kacang goreng, atau keripik. Tentu setelah itu kami menyecap minuman dingin aneka merk.

Suasana di dalam kapal. | Dokumentasi Pribadi

Suasana di dalam kapal. | Dokumentasi Pribadi

Kami suka jajan di kapal yang dikelola ASDP Indonesia Ferry karena harganya cukup terjangkau. Harga yang ditawarkan adalah harga normal seperti umumnya kita membeli makanan di kedai-kedai sekitar rumah. Tidak ada harga makanan yang dinaikan lebih tinggi aka “getok” harga.

Dek Kapal Jadi Favorit

Waktu tempuh Batam-Bintan, dan sebaliknya, yang mencapai 60 menit, membuat kami puas berkeliling kapal. Biasanya setelah bosan menonton acara di televisi dan jajan di kantin kapal, kami beranjak ke dek kapal. Kami menyusuri bagian samping kapal, hingga akhirnya berakhir di bagian atas.

Duduk di samping kapal sambil melihat pemandangan. | Dokumentasi Pribadi

Duduk di samping kapal sambil melihat pemandangan. | Dokumentasi Pribadi

Kami cukup leluasa berjalan-jalan berkeliling kapal ferry yang dikelola ASDP Indonesia karena kapal berlayar cukup stabil. Tidak ada gelombang besar yang membuat kapal oleng. Kami seolah berjalan di lantai rumah. Bedanya kiri dan kanan adalah laut lepas yang berwarna hijau kebiruan.

Dek kapal jadi favorit untuk bersantai dan berfoto. | Dokumentasi Pribadi

Dek kapal jadi favorit untuk bersantai dan berfoto. | Dokumentasi Pribadi

Sambil berjalan kami biasanya menikmati embusan angin yang cukup kencang. Jujur sepoinya angin membuat kami sedikit mengantuk. Namun hamparan laut luas dipadu dengan warna-warni kapal yang berlayar membuat kami enggan memejamkan mata. Terlebih saat kami melewati pulau-pulau kecil dengan pemukiman khas daerah pesisir. Dibanding tertidur, kami lebih memilih untuk berfoto ria, mengabadikan pemandangan tersebut.

Dek kapal jadi favorit untuk bersantai dan berfoto. | Dokumentasi Pribadi

Dek kapal jadi favorit untuk bersantai dan berfoto. | Dokumentasi Pribadi

Lelah berfoto dan melihat-lihat pemandangan, kami memilih duduk di atas dek kapal berbaur dengan penumpang lain. Dek kapal sepertinya menjadi bagian favorit para penumpang, terutama para penumpang yang hobi menikmati aneka pemandangan pantai lepas, seperti halnya saya dan suami.

Dek kapal jadi favorit untuk bersantai dan berfoto. | Dokumentasi Pribadi

Dek kapal jadi favorit untuk bersantai dan berfoto. | Dokumentasi Pribadi

Kami para penumpang yang memilih duduk diatas dek kapal biasanya baru turun ke badan kapal usai kapal ferry tersebut sudah cukup dekat dengan Pelabuhan Tanjunguban, Bintan, bila dari arah Batam. Sebaliknya bila dari arah Bintan, bila kapal ferry tersebut sudah cukup dekat dengan Pelabuhan Telagapunggur.

Gugusan pulau yang dilihat sepanjang perjalanan. | Dokumentasi Pribadi

Gugusan pulau yang dilihat sepanjang perjalanan. | Dokumentasi Pribadi

Menyebrang dari Batam ke Bintan, dan sebaliknya, memberi hiburan tersendiri. Perjalanan menjadi tidak terasa karena seolah sedang berwisata bahari. Kalau teman-teman punya juga kah pengalaman menarik menyebrang dengan kapal ferry ASDP Indonesia Ferry? Bila ada yuk berbagi cerita di kolom komentar. Salam Bataminenglish! (*)

#AsyiknyaNaikFerry

Share This:

12 thoughts on “Seru, Menyebrang dari Batam ke Bintan dengan Kapal Ferry ASDP

    1. Maksudnya bawa mobil dari Batam ke luar Batam dan dibawa lagi ke Batam ya? Pertama minta surat rekomendasi dulu dari BP Batam, setelah itu meminta surat jalan dari kepolisian dan bea cukai.

    1. Iya betul seru banget Mas, naik ferrynya saja sudah berasa berwisata saking serunya.

  1. Pengalaman menarik ya ngantri sampai jam 10 malam demi bisa pulang kebatam dari tanjung uban…seru haru capek dan pengen nangis, karena antri dari jam 4 sore, lagi haid, baju basah oleh keringat . Udah deh gado2 saat itu demi merasakan lebaran bersama keluarga bawa kendaraan dari batam

    1. Lagi rame ya mbak makanya ngantre banget, kami belum pernah sih seperti itu, tapi pernah kecegat yang lagi pawai di 17 Agustusan di sekitaran Tanjunguban, sudah stress aja takut ga keburu naik kapal pada jam yang kami inginkan. Tapi alhamdulillah akhirnya keburu.

  2. memang seru ya kak … kalau naik roro … banyak penumpang manusia dan juga motor apalagi mobil … bahkan yang paling keren … tanjung uban sudah keliatan … tapi tidak sampai sampai … hihihi

    1. Memang tidak secepat kapal ferry dengan ukuran yang lebih kecil, tapi justru karena itu lebih leluasa menikmati pemandangan karena kapalnya lebih stabil dan leluasa naik ke dek kapal buat lihat pemandangan sepanjang jalan yang lumayan keren.

  3. Aku pernah mbak, emang seru banget. Tp yang ngerinya itu parkiran mobil rapet2 banget yak kalo lagi rame …

    1. Iya kalau lagi rame memang rapet-rapet poarkirnya, tapi biasanya diarahin sama petugsanya jadi tetap teratur dan aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *